Manusia Tanpa Cita-Cita

Hai^^ udah lama gak ketemu disini ya :3 kebiasaan main wattpad saya^^ monggo dilirik wattpad saya~ #promosi

Sekarang, aku punya sedikit cerita. Biasa, one side lagi. Soalnya, kalo gak one side jarang tamat cerita saya =w= Jadi, ini gabisa dibilang cerita juga =w=

 

Manusia Tanpa Cita-Cita

Kalian pernah memiliki cita-cita? Menjadi dokter, polisi, insyinyur, arsitek, guru, seniman, aktor, bos, bahkan presiden. Semua orang bebas memiliki cita-cita. Tidak pernah ada yang melarang, begitupula tidak ada aturan yang mengaturnya. Ada sekian banyak cita-cita di dunia, apakah logis jika tidak memiliki cita-cita? Setiap anak TK, SD, bahkan saat SMP, pasti ditanya apa cita-citamu? Seakan dituntut memiliki cita-cita, karena itulah yang membantu kita menjalani hidup.

11 tahun lalu….

Seorang guru di TK Melati terlihat ceria di depan kelas. Kali ini, mereka membahas tentang cita-cita.

“Anak-anak, kalian mau jadi apa nanti?”

“DOKTER!”

“GURU!”

“SUSTER!”

“POLISI!”

Seketika kelas pun ramai dengan jawaban anak kecil yang polos itu. Mereka berebut ingin menjadi dokter, polisi, guru, dan sebagainya.

“Coba kalian gambar ya, nanti kalau besar ingin jadi apa.” perintah sang guru lembut. Tidak lupa tersenyum. Anak-anak pun mengangguk tanda mengerti, seiring dnegna bel pulang berbunyi. Anak-anak kecil itu pamit menuju rumah masing-masing, bersama orang tua yang menjemput mereka.

Zea berjalan dengan penuh pikiran mengisi otaknya. Cita-cita ya…. Apa itu cita-cita? Aku harus gambar apa?

Cita-cita adalah sesuatu yang kau inginkan saat besar nanti….

Saat besar ya… Mungkin aku tanya Mama saja! Mama kan sudah besar! Zea pun tersenyum bahagia.

Sesampainya dirumah, Zea menghampiri mamanya. “Mama, tadi bu guru suruh gambar cita-cita Zea. Zea harus gambar apa?”

Mama hanya tersenyum. “Zea nanti besar mau jadi apa?”

Zea terlihat berpikir, lalu menggeleng cepat. “Kalau mama jadi apa?”

“Mama dulu mau jadi dokter, biar bisa ngobatin orang sakit kayak Tante Uni.” ujar sang mama tersenyum lembut. “Zea mau jadi dokter?”

Seketika mata Zea bersinar bahagia. Zea mengangguk cepat. “YA! ZEA MAU JADI DOKTER! Kalau mama sakit, nanti Zea aja yang obatin!”

Sang ibu pun tersenyum. “Kalau gitu, sekarang Zea gambar dokter ya. Jangan lupa belajar yang rajin, biar jadi anak pinter dan jadi dokter!” 

“Baik!” Zea pun segera mengeluarkan buku gambar, pensil, penghapus, dan pensil warna untuk menggambar sang dokter. Sang dokter yang menggunakan jubah putih. Keren. Aku akan menjadi dokter saat besar nanti! Zea pun tenggelam dalam khayalannya, saat dia menjadi dokter yang keren, dapat membantu orang sakit.

7 tahun yang lalu…

Di sekolah sedang marak membuat cerita, semaca cerpen gitu. Tak terkecuali seorang Zea. Di masa SD nya, Zea aktif menulis, walaupun tidak ada yang tamat, karena penyakitnya. Zea memang punya penyakit tidak bisa mengawali dan mengakhiri sebuah cerita. Karena itu, Zea terus menulis dan menulis, menambahkan cerita baru, tapi semuanya berakhir gantung. Walaupun begitu, cerita Zea diminati oleh teman-temannya. Bahkan beberapan teman mengikuti jejaknya. Dari sinilah Zea merasa mengetahui apa bakatnya. Apa keinginannya. Hingga suatu saat dia memutuskan,

“AKU AKAN MENJADI PENULIS!”

Sejak saat itu, Zea selalu menulis apapun yang ada di otaknya.

5 tahun yang lalu….

Sekarang Zea sudah SMP. Bertemu dengan teman baru, dengan lingkungan baru. Bukan hal mudah bagi Zea, karena dia termasuk anak pendiam. Tertutup. Tidak mudah percaya, setelah beberapa penolakan diam-diam terhadapnya. Selalu sendirian. Dicap aneh. Tempramental. Tidak suka diganggu. Zea menjadi seorang penyendiri yang suka tidur di pojokan kelas atau menulis seuatu di perpotongan tangga. 

Akan tetapi, mungkin itu yang membuat Zea terus menulis. Karena terasingkan dan mengasingkan itulah dia dapat menulis. Keinginannya menjadi penulis semakin besar, sampai pada titik jenuhnya. Dia menyadari bahwa itu bukan bidang terbaiknya. 

1 tahun lalu, sekarang…

Zea sudah SMA. Lihatlah penampakannya sekarang. Zea memang tumbuh menjadi anak yang cerdas –jika kecerdasan diukur dari nilai ulangan– , dia tahu bagaimana dia begitu menyukai sebuah mata pelajaran. Dia tahu dia bisa, akan tetapi dia kehilangan keinginannya. Berbanding terbalik dengan 1 tahun yang lalu, ketika Zea masih TK.

Keinginannya menjadi dokter sudah pupus. Keinginannya untuk menjadi seseorang yang berhubungan dengan orang lain sudah pupus, mengingat betapa dia tidak bisa mempercayai orang lain. Zea kembali berpikir, inilah hal tersulit. Ketika kau sudah mampu menggapainya, namun kau tidak punya keinginan untuk menggunakannya. Selama ini, ia hanya mengikuti arus. Menjadi yang terbaik agar tak ada yang kecewa. Namun, ketika masa sekolahnya akan berakhir seperti ini…. Apa yang ia lakukan? Ketika rapot hanyalah buku usang. Ketika ijazah hanyalah selembar kertas. Untuk apa jika tidak memiliki keinginan? Untuk apa jika mampu namun tak ingin? Kadang ia iri pada seornag seniman, yang sangat mendalami seni. Kadang ia iri dengan seseorang yang walaupun dia punya kelemahan disana sini, dia masih punya satu keistimewaan yang sangat menonjol. Kelebihannya seakan mengaburkan segala kelemahannya. Orang hanya membahas kelebihannya. DIbicarakan orang dibidangnya. Sedangkan ia?

Zea kembali merenung. Apa itu cita-cita? Jika aku memang tak punya cita-cita, apakah aku tak punya masa depan?

Cita-cita adalah sesuatu yang kau inginkan saat besar nanti.

Ya. Saat besar. Semakin besar, semakin realistis. Dan itulah yang membuatku tidak bisa memikirkan, aku ingin jadi apa? Untuk bidang –yang menurutku– ku kuasai, ada banyak pilihan yang dapat diambil. Mengapa aku harus memilh salah satu? Toh keduanya aku mengharapkannya, tapi aku tidak tau apa yang sebenarnya diinginkan, dan dibutuhkan oleh diriku.

Zea terus merenung. Semakin kesini wajahnya semakin tidak bisa ditebak. Semakin aneh. Dihadapkan pada empat pilihan besar: menjadi seorang programmer yang hebat, menjadi seorang ahli farmasi, mendalami teknik industri, atau… meneruskan bisnis keluarga. 

Ya. Pilihan terakhir adalah yang paling memenuhi pikirannya. Bingung. Padahal pada semua orang, ia selalu bilang ingin menjadi arsitek. Tapi…. kenapa gak nyambung semua? Tidak ada kolerasi antara arsitek dan farmasi –kecuali kau ingin membuat rumah tersebut menjadi obat–. 

Menjadi orang pintar tidaklah mudah. Karena sesungguhnya dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan.

Memang tidak mudah, ketika kau menjadi manusia tanpa cita-cita.

Pada akhirnya, menggambar cita-cita untuk tugas TK lebih mudah ketimbang menggambar cita-cita saat sudah di penghujung masa sekolah.

 

Bekasi, 16 April 2014

 

Iklan

[repost] Gloomy Sunday, a full-of-tears day

Inspired by a suicide song, “Gloomy Sunday” . Check this..

Sept 20th 20xx, 01.00 am

“Aru, kemana aja lu?” tanya Ara galak. Matanya menyipit, menyelidik.

“Bukan urusanmu.” jawab Aru dingin. Dia tidak suka diganggu. Aru pun melangkah masuk, melewati
kakaknya begitu saja.

Ara mencengkam lengannya. “Aru! Jawab gua. Apa kau selalu pulang jam segini?” tanya Ara dengan
nada serius.

Aru hanya menyeringai dan tersenyum sinis dengan mata menyipit. “Kalau iya, masalah? Liat diri lu
sendiri.” jawab Aru sinis. Hawa beku disekitar kakak-adik itu semakin terasa. Ara tertegun dan
perlahan melonggarkan cengkramannya. Aru pun menghentakan tangan Ara dan berlalu begitu
saja.

Continue reading “[repost] Gloomy Sunday, a full-of-tears day”

Hachiko

Em sebelumnya apa yang kalian pikirkan waktu denger kata “Hachiko”? Pasti rata-rata mikirnya ada hubungannya sama jepang gitu kan? Haha
Gapapa. Bener kok. Hachiko itu salah satu monumen di Jepang. Bentuk patungnya tuh patung anjing gitu.
Hachiko dibuat untuk menghargai seekor anjing yang sangat setia pada majikannya. Kisah ini juga diangkat menjadi film, judulnya “Hachiko”. Kalo penasaran, tonton aja. Wkwk
Tp kali ini gue pengen nyoba bikin cerita dengan judul hachiko, yang terinspirasi dari kesetiaan si anjing hachiko ini. Tapi yaaa… Sabar aja. Maklum, gue males banget soal nulis. Tergantung mood aja.
Yah sekian dari gue buat debut Hachiko ini. Thanks for read this post.