en ever

BRAK!

Fathi membanting pintu ruang rapat hingga menimbulkan kegaduhan. Orang mulai berbisik mengenai dia yang tempramen, tidak tau sopan santun, atau bahkan terang-terangan menggodanya dengan kalimat-kalimat gaul yang memuakan.

Gadis itu berusaha menulikan telinganya. Tangannya terkepal erat, hingga perlahan ia menggenggam pergelangan kirinya, mengusapnya lembut sebelum menghujamkan kukunya yang panjang. Beberapa kali ia coba berhitung dengan menyesuaikan napasnya, mencoba tenang agar tekanan darahnya tidak melunjak. Dengusannya menyela. Ia mengulum bibir, menahan kelopak mata. Gadis itu berusaha agar tangis dan emosinya meledak lebih dari ini. Ya Tuhan, kok susah sih?!

“Fathi,” Aru menyentuh pundak Fathi. Gadis itu langsung menepisnya. “Let’s talk, okay?” bujuknya.

Fathi tetap diam. Otaknya masih terlalu sibuk untuk sekeddar memberi perintah yang seerhana tapi pasti. Ia tidak akan bisa mengontrol suaranya jika bicara sekarang. Aru pasti akan kaget jika ia bentak dan itu tidak baik bagi kesehatan jantungnya. Bagaimana kalau setelah ia kelepasan, kondisi Aru malah memburuk? Ia pasti akan merasa bersalah seumur hidup.

Namun, Aru masih gigih membujuk Fathi. “Fathi, kita pulang aja ya? Istirahat, dinginkan kepalamu, oke?”

Fathi sempat menatapnya tajam sebelum mengangguk. Aru tersenyum lega. “Ke parkiran, yuk. Barangmu gak ada yang ketinggalan, kan?”

Gadis itu berjalan cepat mendahului Aru. Ia tidak hiraukan orang yang protes karena seenaknya memotong jalan, menyalip, atau menyenggol mereka. Pikirannya dihujani berbagai macam hujatan dan spekulasi yang membuatnya frustasi. Belum lagi, bayangan dan suara kekecewaan orang-orang, Aru, dan yang lain menghantui dirinya.

Di belakang, Aru menatap punggung itu dengan tatapan gamang. Antara marah dan rasa bersalah.

 

***

“Assalamu’alaikum!”

Aru mengucapkan salam sekaligus mewakilkan Fathi yang masuk begitu saja tanpa mengucap apapun. Mbak Ta bingung karena tiba-tiba diabaikan Fathi yang biasanya selalu menyapa dan minta cemilan.

“Mas, itu si Eneng kenapa?”

“Lagi gak enak hati aja, Mbak. Maafin, ya.” Aru tersenyum tipis. “Saya nyusulin dulu.”

“Ikut, Mas.”

Aru dan Mbak Ta segera mengikuti langkah cepat Fathi menaiki tangga. Aru melebarkan matanya dan mempercepat langkah ketika Fathi membuka pintu dengan gantungan kucing di depannya. “Fathi! Kamu-”

“-salah kamar.”

Terlambat. Pintu dengan gantungan kucing itu sudah tertutup kembali. Pintu dengan gantungan kucing bertuliskan “Kamar Nara”.

***

Fathi menghempaskan tubuhnya tanpa melihat sekeliling. Ia segera mengambil selimut, lalu meringkuk seperti bayi. Jemari kanannya masih mencakar tangan kirinya berulang kali, berharap ada satu cakaran yang membuahkan hasil agar ia dapat mengalihkan perhatiannya. Nihil. Kulitnya masih mulus.

Ia menggeram frustasi, kemudian memukul sendiri kepalanya kesal. “Fathi bego, Fathi bego! Kenapa bisa kelepasan di ruang rapat? Payah, kamu. Payah!” racaunya pelan dengan suara tertahan. Ia masih harus menahan suaranya karena ini bukan rumahnya. Ia hanya menumpang. Tangan kanannya terus memukul hingga pandangannya terasa sedikit berkunang, menimbulkan sensasi mual yang sulit ia tahan.

“Hoek!”

“Jangan muntah di kasur saya.”

Suara berat itu membawa balik kewarasan Fathi. Gadis itu menatap horror penampakan manusia di sampingnya yang juga memeluk selimut. Wajah bantal penampakan itu semakin menambah sensasi horror yang dirasakan.

“Kak Ara!”

 

***

Sekarang, ia duduk berhadapan dengan Nara, persis terdakwa yang disidang. Hakim Narayan Anggara menatapnya tajam penuh kecurigaan. “Kenapa kamu seenaknya masuk kamar saya, tiduran di kasur, rebut selimut, nangis, menyiksa diri, juga memaki diri sendiri?”

Gadis itu menunduk, menghindari tatapan pria di hadapannya. “Maaf, Kak…,” gumamnya pelan.

“Ah, ya, maafmu gak buat capek saya hilang, tapi seenggaknya kamu sadar, kan?” Ara menghela napas super lelah. “Kamu balik ke kamar sendiri, deh. Tidur yang tenang.”

 

 

 

 

“Ah, Fathya. Kamu harus cari hal lain buat ngalihin pikiran kamu. Temui Dokter Rama sesuai rekomendasi Aru. Itu rekomendasi dari ayah dan saya juga, kok. Kamu masih punya kelebihan yang bisa dipuji, makanya saya percaya sama kamu.”

***

“Maaf, Kak Ara. Fathi gak yakin bisa ngontrol emosi kalau biara soal Aru atau apapun yang berhubungan sama dia. Maaf, sudah mengeewakan.

 

[tbc]

 

Akhirnya kebuat juga drabble yang isinya Aru.

Iklan

Sampai kapan?

Aku berjalan menuju dapur. Gelap. Kulirik jam tangan yang melingkar, 00:30. Pantas saja. Manusia mana yang hidup jam segini di saat besok hari Senin.

Aku mengambil gelas dan menuangkan air hangat dari teko. 

“Gak buat susu sekalian?”

Klotrang!

Panas! Ini orang kenapa sih? Untung gelas melanin. “Kalau gelasnya retak, aku gak mau ganti lho,” ujarku kesal.

Namun aku gak bisa kesal lagi karena si pelaku adalah lelaki tinggi dengan rambut gondrong, bukan lelaki tinggi rata-rata berambut pendek.

 “Maaf, Kak Erai. Gelasnya pasti kuganti kok, hehe,” Aku mengambil gelas lalu memeriksanya dengan seksama. “Gak retak kok, gak retak!”

Kak Erai memerhatikanku dengan tatapan aneh. “Cuci sana gelasnya. Lap airnya pakai lap pel aja.”

“I-iya.”

Kak Erai memerhatikanku sambil menghangatkan susu dari kulkas. Kulihat ia menuang susu ke dalam dua gelas besar dan membawanya ke meja makan.

Setelah memastikan lantainya kering, aku segera bergabung dengan Kak Erai. Gelasnya … hangat. “Terima kasih, aku jadi merepotkan.”

“Kamu udah terlanjur merepotkan, jadi tidak usah sungkan,” Kak Erai meminumnya sedikit, aku pun begitu. Masih panas.

Sadar terlalu memperhatikannya, aku menunduk. Mataku tertuju pada permukaan susu yang tetap terlihat putih walau suasana remang. “Tapi, tetap saja kan–”

“Sampai kapan di sini?”

Jleb.

Pikiranku menguap. Mood baikku setelah mengobrol seharian dengan An menguap. Seolah dilempar tiba-tiba dari ketapel, menabrak pohon, lalu jatuh ke tanah.

“Aku sudah mengecek harga kontrakan di sekitar sini, jadi tinggal menghitung tabungan dan sekiranya aku bisa part-time di minimarket, aku akan segera pergi—”

Tek.

“Bukan itu.” Kak Erai menggeser kursinya untuk mendekat. “Banyak hal antara aku dan An, tapi aku tetap khawatir kalau dia tiba-tiba menghilang. Bagaimana pun dia adikku. Aku rasa orang rumahmu pun begitu.

Mereka pasti khawatir kalau kau menghilang tanpa kabar untuk waktu yang lama.”

Aku merasakan Kak Erai menepuk kepalaku lembut. Seketika, air mataku mengalir. Mau ada atau tidak ada, aku ini tetap menyusahkan, ya?

“Berjuanglah.”

Aku pun kembali sendiri, bersama segelas susu hangat yang akan dingin seiring waktu berjalan.

•••

“Kakak jahat, ya.” Lelaki dengan tinggi standar dan rambut pendek, An, membenarkan kacamatanya dibalik tembok. Ia menatap kakaknya seperti ia menatap orang yang meninggalkan anak kucing kedinginan.

“Kalau kelamaan di sini, dia sendiri yang kena masalah.” Erai memberikan segelas susu itu pada adiknya. “Cepat tidur. Besok, berlakulah seperti biasa.”

[not really][END]

玉子


Aku gak tau mau nulis apa. Terlalu banyak kejadian dalam waktu yang sangat singkat dan masing-masing … kontradiktif. Akhirnya aku buka koleksi lama dan baca-baca lagi Barakamon. Judulnya itu kanji Tamako btw. Gak tau betul atau enggak sih, tapi semoga gak salah ya haha.

Kekalahan itu emang … sakit. Ya. Kecemburuan itu sakitnya lebih menusuk, menurutku. Orang bilang, katakanlah dengan jujur. Namun, jujur masalah kecemburuan dalam artian “iri” dan “dengki” rasanya memang hina ya.

Rasanya juga sakit. Sudah hina, sakit, payah pula. Apa bagusnya?

Ingin aku jadi manusia yang gak peduli dengan orang lain jadi bisa memaki sesuka hati, bisa bertindak sesuka hati, mungkin dengan begini lebih plong ya?


Atau mungkin … kehidupan kucing lebih membahagiakan ya?

Ngawur. Terlalu banyak yang kupikirkan, akhirnya malah ngawur begini. Mungkin lebih baik kalau aku sakit yang terlihat untuk membuat kesan tersiksa yang nyata.

Monster

Kukira hidupku akan baik-baik saja. Hidup dalam damai, tidak ada sesuatu yang terlalu mengagetkan.

Kukira monster itu sudah pergi dan membiarkanku hidup dengan tenang. Toh selama ini tidak pernah ada masalah, kan?

Namun, aku salah. Salah besar.

Monster itu tetap ada. Bahkan mungkin lebih kuat dari sebelumnya. Dia seperti kumpulan dari sampah-sampah yang menggunung dan menjadi sesuatu yang sangat sangat mengerikan.

Aku tidak tau mengapa saat badai itu datang, hal pertama yang kubayangkan adalah pisau dapur yang biasa kupakai untuk ngupas bawang?

Pikiranku berkabut. Campur aduk. Semua menjadi semu, semua berada di area abu-abu.

Aku marah pada semua yang ada, aku benar-benar ingin menghancurkan semuanya.

Terlebih, aku marah pada diriku sendiri. Marah, kecewa, sedih, semua emosi negatif menjadi satu. Aku lebih-lebih ingin menghancurkan diriku sendiri. Toh, aku memang tidak pernah pantas untuk hidup, kan?
Ya, aku belum berubah. Malah aku semakin parah. Aku pun kaget, aku pun kecewa. Marah? Jangan ditanya. Betapa aku merasa ingin mati saja karena masih punya sisi buruk yang mengerikan dan menjijikan seperti ini.

Bahkan untuk saat ini, aku takut saat ada orang berbuat baik. Aku takut jika ia mengenalku lebih dekat lagi.

Monster yang kupunya akan membuat kalian tidak pernah ingin mengenalku lagi.

Dan kurasa

Monster itu tidak akan pernah pergi.

Ia hanya diam, menjadi lebih menyeramkan dalam diam.

Bonus : ucing untuk menghangatkan harimu. dia spider 4.0. Black spider.

Tanah yang Belum Ditakdirkan

Ada sebuah tanah

yang selalu ada di puncak mimpi

Ada sebuah tanah

yang rasanya tidak akan pernah ditakdirkan

Ada sebuah tanah

yang walau seribu tahun pun rasanya mustahil
Ada sebuah tanah

Yang selalu kudamba

Sekaligus membuatku sakit

Akan penolakan.
Tanah yang belum ditakdirkan

Dan mungkin saja
Tak akan pernah ditakdirkan.

[Tanah Yang Belum Ditakdirkan, Kei, 2017.]
•••


Curhat sih. Jadi ya ada penolakan yang belum kuminta saja udah ditolak, lol. Oke, aku nurut dan berusaha jadi anak baik. Tapi … tolonglah, aku pergi sebagai aku, bukan pergi sebagai pengganti atau perwakilan siapapun.

Aku mulai bertanya-tanya

Sebenarnya aku pergi untuk apa? Untuk mewakilkan rasa penasaran dan keinginan orang lain saja, kah?

Aku berhak memilih tanahku sendiri, kan?

Feel


Aku benci menjadi perasa. Memang, dengan begitu kita bisa lebih memahami orang atau apapun. Tapi masalah muncul jika kau hanya peka pada “perasaan benci”, lalu hal itu membuatmu punya perasaan benci pada dirimu sendiri. Seluruh semesta pun membencimu.

Menjadi perasa, aku malah memikirkan perasaan banyak orang (bahkan makhluk) yang sebenarnya tidak penting samasekali. Oh,aku malu mengungkapnya. Kalian pasti menertawaiku sekarang.

Menjadi perasa, aku semakin merasakan betapa aku membenci diriku sendiri.
Aku benar-benar benci jadi perasa.
•••
K. 2017.
Bonus : foto ucing ngintip