Part 4

[part 4]
Prediction

Seorang pria paruh baya berjalan didalam rumahnya sekitar tengah malam. Dia tiba-tiba terbangun dan ingin mengambil segelas air hangat. Saat itu lah dia melihat lampu menyala dari ruang perpustakaan.

“Siapa yang malam-malam begini masih terjaga?” pikirnya. Dia pun akhirnya memutuskan untuk melihat makhluk malam tersebut.

Krieeet…
Terdengar suara pintu terbuka. “Nak? Apa yang sedang kau lakukan?” tanyanya kaget, ketika melihat anaknya sedang serius meneliti sebuah kotak tua dengan setumpuk buku kuno dihadapannya.

Anak tersebut menoleh. “Oh ayah. Tidak apa-apa ayah. Aku sedang mencari tahu sesuatu.” jawabnya sambil tetap terpaku pada kotak tersebut.

“Kotak apa itu nak? Coba ayah lihat.” Sang ayah masuk menghampiri anaknya. Setelah meletakan segelas air hangat di meja, ia mengambil kotak itu. Dia terdiam.

“Ayah tau sesuatu tentang itu? Aku sudah mencari di beberapa buku kuno, namun tak ada clue yang berarti untuk kotak tersebut.” jelas sang anak kebingungan.

“….” Sosok yang disebut Ayah itu masih bungkam. Ia ssdang memperhatikan isi kotak tersebut. Ada sepasang kalung, cincin, dan anting yang bertahtakan batu mulia. Yang satu berwarna hijau dan yang satu berwarna biru.

“Ayah?” Sang anak menatap ayahnya. “Ayah tau sesuatu?” tanya anaknya lagi. Dengan wajah yang sangat sangat penasaran.

“Ah, nak. Pantas saja kau tidak menemukan apa-apa tentang kotak ini. Yang istimewa bukan kotaknya, namun isinya.” ujar sang ayah menatap anaknya.

“Maksud ayah?” Si anak masih kebingungan.

“Perhiasan ini milik putri dan pangeran. Keluarga ini sebagai bangsawan penjaga kerajaan, pantas saja menerima ini.” ujarnya sambil memberikan kotak tersebut pada anaknya.

“Hah? Apa yang ayah bicarakan?” tanya sang anak yang semakin bingung.

“Dengar baik-baik nak. Mereka sudah dekat. Perhiasan ini tau siapa tuannya. Perhiasan ini akan bereaksi jika merasakan keberadaan tuannya. Mungkin mereka ada di sekitarmu. Pehatikanlah baik-baik.” Setelah itu sang ayah meminum habis air di gelasnya, lalu berdiri. Bermaksud untuk kembali tidur.

“Tidurlah nak. Jangan terlalu larut. Kau masih punya tugas esok hari.”

Jleeb! Sang ayah pun keluar dari ruang perpustakaan. Sedangkan sang anak masih memikirkan kata-kata ayahnya tadi.

┒(‘o’┒)(┎’o’)┎ – ┒(‘o’┒)(┎’o’)┎

Elena memasuki gerbang sekolah dengan sangatsangatsangat tidak bersemangat. Dia masih memikirkan kejadian ms. Donna yang sangat asdfghjkl itu. Dia tidak menyangka bahwa alasannya sesepele itu. Saat itu dia sangat menyesal mempunyai kakak yang “lumayan” cakep itu. Amitamit punya ipar begitu.

Halaman Fatahareya masih sepi. Paling hanya ada beberapa mahasiswa yang duduk-duduk di taman sambil main gitar, baca buku, atau menjahili teman.

Lain halaman lain kelas. Saat memasuki kelas, ia mendengar suara ribut dan hanya mendapati pasangan bodoh yang sedang main uno.

“Eh Intan! Curang lu nuker kartu!” teriak Reno yang berusaha merebut kartu dari tangan Intan.

“Diiih, kaga sih. Ini emang kartu gua pele!” balas Intan sambil melet-melet.

Elena pun hanya geleng-geleng kepala melihat betapa gaduhnya mereka. Dia berjalan ke tempat duduknya seperti biasa.

“Elenaaaa~ kamu ga kenapa-napa kan kemarin?” tanya Intan yang tiba-tiba menghampiri Elena dengan suaranya yang “indah”.

“Woy Intan, malah kabur.” panggil Reno. Intan hanya berbalik dan menjulurkan lidah untuk Reno.

Elena menghela napas panjang. “Ga kenapa-napa.” Tiba-tiba Elena mengingat insiden kemarin. Dia merasa darah menjalari wajahnya. “Hanya ada….sedikit insiden.” tambahnya sambil berusaha bersikap biasa.

“Ooh.. Kau sudah menyelesaikan masalahmu dengan ms. Donna?” tanya Intan. Sepertinya dia tidak terlalu peka.

“Itu masalahnya, bukan masalahku.” jawab Elena singkat. Dia mulai meletakan kepala diatas meja. “Lagipula sudah ada yang menyelesaikan.” tambahnya.

“Oooh begitu. Baguslah.” Intan mengangguk. Lalu dia mendekatkan posisinya dengan Elena. “Hai Elena. Tau tidak? Sepertinya, ms. Donna tertarik pada Herr Steffano.” katanya sambil berbisik.

Elena segera menegakan punggungnya. Dia terlihat kesal. Dia menatap Intan dengan tatapan gue-gamau-denger-begituan-karna-itu-bikin-mood-gue-rusak atau semacamnya.

“Kau tahu? Aku membayangkan jika mereka menikah lalu mempunyai anak. Mungkin anak mereka akan pintar 1000 bahasa.” lanjutnya dengan polos. Oke, mungkin Intan adalah orang ter-gapeka di dunia.

Elena kembali menatapnya bengis. “Stop. Jangan sampai itu terjadi bahkan di dunia khayalan. Kasihan adikya Thomas, mungkin dia akan bunuh diri atau menjadi seorang pembunuh.” ucapnya dingin dan tegas.

Intan kaget. Tidak biasanya Elena seperti ini. Dia menatap Elena ragu. “Kau… Kenapa?”

“Aku hanya kasihan pada adiknya.” jawab Elena ketus.

“Sepertiny adik Herr Steffano itu…. over protective, mungkin. Hahaha” ujar Intan sambil tertawa garing.

“Sepertinya begitu. Atau, dia hanya tidak rela jika iparnya adalah Donna.” balas Elena lirih. Menerawang. Intan masih memperhatikannya dengan tatapan aku-tidak-tahu-apa-maksudmu , namun Elena mengabaikannya.

┒(‘o’┒)(┎’o’)┎ – ┒(‘o’┒)(┎’o’)┎

Saat istirahat….

“Sepertinya, aku harus mencobanya.” ujar Rangga dalam hati. Dia pun membuka sedikit kotak tua yang ada di laci mejanya dan memperhatikan kalungnya. Dia teringat pesan ayah tadi pagi.

“Hijau adalah pangeran sedangkan biru adalah putri. Bawa mereka selalu disekitarmu dan pehatikanlah, terutama batu yang paling signifikan.”

Dia terus memperhatikan kalung itu. Warnanya sedikit lebih bersinar, apa berarti…, pikirnya. Dia mengingat-ingat bagaimana keadaan batu itu kemarin. Ah, mungkin hari ini sinarnya lebih terang, tepisnya. Dia pun punya satu ide untuk mencobanya, pada seseorang yang selama ini dia anggap sebagai sang putri itu.

“Clara!” panggil Rangga dengan suara berat dan gaya cool nya. //cool beneran loh ini//

Clara dengan cepat menoleh. Dia tersenyum sumringah. “Ada apa Rangga?” tanyanya dengan sok lembut dan sok imut.

“Kesini sebentar.” jawabnya sambil melambaikan tangan dan mengangkat sedikit ujung bibirnya.

Clara pun dengan segera meninggalkan teman-temannya yang bersorak untuk dia, menuju tempat Rangga. “Baik Rangga, akan kulakukan apapun untukmu say…..”

BRUK! Seseorang menabrak Clara tepat saat Clara akan meraih lengan Rangga manja. Clara otomatis terdorong sedikit dan orang yang menabrak itu hampir saja terjatuh jika tidak ditahan oleh tangan Rangga. Si penabrak pun segera bangkit. Clara mendengus kesal saat melihat rambut coklat gelap si penabrak. Elena.

“Maaf, tidak sengaja.” ujarnya dingin dan singkat sambil membungkuk 90°.

Rangga yang teringat pada misinya segera memperhatikan laci meja. Dia harus memanfaatkan kesempatan ini! Kesempatan saat Clara ada di dekatnya dan dia tidak akan kepo atas apa yang sedang dipehatikannya. Ah, batu biru bersinar! Rangga terus memperhatikan saat-saat penting batu biru tersebut.

“Lain kali hati-hati dong. Bisa ga sih? Punya mata ga sih? Udah pake lensa kontak juga.” bentak Clara sinis.

“Maaf dan…terima kasih, Rangga.” ujar Elena. Dia mengorbankan gengsinya untuk berterima kasih pada makhluk satu itu.

Rangga seketika menoleh. Dia hanya tersenyum mengejek dan mengatakan, “Ne, baka hime.” Elena pun segera pergi dari area mencekam itu.

“Huh! Apa-apaan dia, pengganggu.” omel Clara menunjuk Elena. Dia pun berbalik ke Rangga. “Ah iya Rangga, ada apa memanggilku. Biarkan saja kutu kecil.pengganggu tadi.” katanya dengan suara yang lembut dan manja.

Rangga menatapnya datar. “Ah, tidak jadi. Maaf Clara.” Ia menggangguk sedikit tanda minta maaf.

Clara tersenyum semanis mungkin. “Baiklah, tidak apa-apa.” Clara pun melenggang kembali ke perkumpulannya.

Rangga dengan cepat melirik kotak tuanya. “Ah, sudah redup lagi.” Dia pun menutup kotak itu. “Mungkin, memang benar dia.” Rangga pun tersenyum puas dengan hipotesanya. Tanpa menyadari bahwa ada kemungkinan yang terlewat. Ya, pelajaran kemungkinan itu memang sedikit butuh ketelitian.

┒(‘o’┒)(┎’o’)┎ – ┒(‘o’┒)(┎’o’)┎

To be continued…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s