Part 3

Elena memasuki gerbang Fatahareya dengan wajah mengantuk. Tadi malam dia tidak bisa tidur karena belum terbiasa dengan perubahan waktu yang cukup jauh. Dalam hati, dia bertanya-tanya mengapa waktu berjalan cepat sekali disini. Jadi, tadi malam dia mngerjakan laporan restoran dan baru tidur dua jam.

“Jangan tidur sambil jalan!” Elena merasa ada yang menepuk pundaknya keras dan berteriak di telinganya. Elena berbalik. “Jangan tidur sambil jalan, Baka hime!”

Oh God! Buruk sekali hari ini -.- , pikir Elena setelah melihat Rangga yang mengejeknya. “Just shut up!” ujar Elena pada Rangga. “And don’t call me with that name!” Elena berjalan tanpa memperdulikan Rangga.

“Tunggu, Baka hime!” Rangga mengejarnya dan tiba-tiba ada sebuah tangan yang melingkari pundaknya.

“Apa?” tanya Elena kesal, sambil tetap berjalan.

“Kau ini, sebenarnya manusia atau alien yang diutus dari planet Hugojumbo sih?” Rangga memasang wajah ingin tahu dan tanpa dosa. Dia sedikit menggembungkan pipinya dan menatap Elena. Elena langsung menatapnya tajam, menjitaknya, lalu pergi meninggalkannya. Benar-benar hari yang buruk, pikir Elena. Sedangkan Rangga hanya tertawa puas melihatnya.

“Baka hime! Jingga-jingga jumbo!” teriaknya pada Elena. Beberapa mahasiswa Fatahareya memperhatikan Rangga yang bertingkah aneh.

***

Elena menguap saat memasuki ruang kelas. Disana masih sangat sepi, hanya ada Intan dan Reno. Dua sekawan itu sedang ngobrol asik, dan sepertinya tidak menyadari kedatangan Elena. Lebih baik aku melanjutkan tidur, pikirnya. Dia pun duduk di kursinya dan menaruh kepala diatas meja.

“Reno! Sudah kubilang kan sarapan! Nanti kalau pujasera penuh seperti kemarin bagaimana?” omel Intan dengan suara cemprengnya.

“Itu salahmu! Kenapa kau rajin sekali! Kalau kita tadi berangkat lebih siang, aku sempat sarapan dulu.” Reno membela diri. Dia memang tidak suka jika sudah disalahkan begitu.

“Kalau kita tidak berangkat pagi, kita akan telat, bodoh!” teriak Intan. Reno menutup telinganya karena suara Intan yang cempreng. Mereka pun terus berdebat.

Elena tidak bisa tidur dengan tenang. Tiba-tiba, dia terpikir sesuatu. “Hai. Intan, Reno, boleh aku bertanya sesuatu?”

Intan dan Reno serempak menoleh. “Kapan kau datang?” tanya Reno.

“Tadi. Kalian sedang berdebat, jadi tidak melihat aku masuk.”jawab Elena. “Well, can I get your answer?” tanya Elena lagi.

“Yeah. Apa yang ingin kau tanyakan?” tanya Intan.

“Thomas biasanya datang jam berapa?”

“Entahlah. Aku tidak begitu memperhatikan guru-guru datang jam berapa.” jawab Intan agak bingung. Dia sudah mulai terbiasa pada Elena yang memanggil Herr Steffano langsung memakai namanya.

“Memang dia kenapa?” tanya Reno penasaran.

“Hm, nothing. Pelajaran pertama apa?” lanjut Elena.

“Bahasa Inggris.” Elena kemudian berdiri dan menuju pintu. “Kau mau kemana?” tanya Reno.

“Jalan-jalan sebentar, menghilangkan kantuk. Oh iya, tadi aku bertemu alien itu di gerbang. Kok dia belum sampai disini ya? Apakah dia ditangkap ufo karena kabur?” tanya Elena penasaran.

“Alien? Maksudmu Rangga? Mungkin dia sedang menunggu sang putri cinderella.” Jawab Intan asal.

“Cinderella? Dia alien juga?” tanya Elena heran. Ada saja yang mau bersama makhluk alien aneh seperti itu==;;

“Dia Clara, anak yang duduk di kursi tengah.” Jawab Reno.

“Oh, yasudah. Aku keluar dulu.” Elena pun keluar kelas. Saat keluar, dia berpapaan dengan beberapa anak kelas dan tersenyum pada mereka. Dia menyusuri lorong-lorong Fatahareya. Dia bermaksud untuk mencari Thomas. Dia berjalan sambil bengong.

BRUK! Dia kaget. Tiba-tiba ada seorang gadis yang menabraknya. “Fai, jangan lari di lorong!” teriak anak laki-laki yang menyusulnya.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Elena pada gadis itu. Gadis itu menggeleng cepat, lalu mengangkat kepalanya.

“Aku tidak apa-apa. Maaf telah menabrakmu, aku tidak sengaja.” Gadis itu membungkuk 90 derajat, lalu berdiri tegak kembali sambil membenarkan kacamatanya dan tersenyum. Elena membalas senyumannya.

“Kubilang juga apa! Jangan kabur atau kau akan menabrak orang!” omel anak laki-laki yang tadi menyusul sang gadis. “Ah, maafkan kenakalan gadis aneh ini, kakak. Dia memang pecicilan.” Anak laki-laki itu membungkuk lalu tersenyum pada Elena.

“EH? Pe.. pe… apa tadi? Ah sudahlah, tidak masalah. Lagipula, aku murid A2. Jangan panggil aku ‘kakak’.” Elena tersenyum.

“Em…. maaf. Aku kira kau mahasiswa yang sedang lewat. Maaf.” Anak laki-laki itu segera meminta maaf.

“Bagaimana kalau kita berbincang dibangku saja? Aku tidak mau ada kejadian tabrak-menabrak lagi.” Mereka bertiga menerima usulan sang gadis dan duduk di kursi yang ada dipinggir-pinggir lorong.

“Kalau kau anak A2, berarti kau anak baru yang dibicarakan itu ya?” tanya gadis berkacamata yang tadi menabraknya itu. Elena mengangguk. “Siapa namamu?” tanya gadis itu.

“Elena.” Jawab Elena singkat.

“Oooh, kenalkan. Aku Faiha, dan ini Ghifa.” Ujarnya. Elena menyambut uluran tangan mereka berdua. Ketika itulah, Elena melihat Rangga dan seorang gadis yang sepertinya bernama Clara sedang berjalan berdampingan. Terlihat Rangga yang membawakan tas milik Clara dan membawa tasnya sendiri. Saat itu, Rangga terlihat seperti seorang putra mahkota yang menjemput putrinya dengan kereta kuda *kejauhan bandinginya==;;*.

“Itu Rangga?” gumam Elena.

“Iya, pemandangan seperti itu sudah biasa. Banyak yang bilang mereka cocok. Bagiku juga cocok, namun lebih cocok seperti penyihir dan pangeran yang terlalu baik.” Jelas Faiha menjawab pertanyaan Elena. Kelihatannya, dia kurang suka pada Clara.

“Kukira dia itu evil alien.” Ujar Elena singkat.

“Dia justru terkenal sebagai anak baik walaupun dingin.” Tanggap Ghifa.

“Memang aneh.” Elena pun berpisah dari Faiha dan Ghifa, untuk menuju kelas.

***

“Rangga!” panggil seorang gadis berambut hitam panjang.

Rangga yang sedang memperhatikan mading, langsung menoleh. “Kau sudah datang, Clara. You’re beautiful as usual.” Pujinya. Gadis berambut hitam panjang yang dipanggil Clara itu tersenyum lebar.

“Rangga, ayo kita ke kelas.” Clara menarik tangan Rangga.

“Iya. Mana tas mu? Biar aku bawakan.” Clara memberikan tasnya pada Rangga, lalu berjalan menarik tangan Rangga ke kelas. Seperti biasa, di jam-jam seperti itu, lorong Fatahareya penuh.

“Aku benar-benar tidak menyangka di kelas kita akan ada anak baru yang tidak sopan itu.” Oceh Clara.

Rangga terdiam sebentar dan menghentikan jalannya. “Maksudmu, Elena?”

“Iya, anak itu.” Clara mengangguk dengan cepat. Lalu dia berbalik dan memperhatikan Rangga yang terdiam. “Hey! Kenapa kau diam saja? Ayo! Lorong sedang ramai, kau akan menganggu alur disini. Ayo jalan!” perintah Clara. Rangga pun segera tersadar dan mengikuti Clara.

“Kau tau, aku tidak habis pikir dengannya. Baru satu hari masuk, sudah tidak sopan pada Herr Steffano dan berkali-kali tertidur didalam kelas. Benar-benar tidak tau aturan. Aku bingung kenapa Fatahareya dan bisa sebaik itu menerima dia. Aku sangat setuju ketika kau bilang dia itu bodoh. Aku heran kenapa Herr Steffano tidak marah sama sekali padanya. Dia pun sepertinya menganggap enteng Herr Steffano dan pelajarannya! Itu benar-benar sudah keterlaluan!” Clara mengocehndengan berapi-api. Sedangkan manusia disampingnya hanya mendengarkan dengan tatapan kosong. Rangga benar-benar bingung harus bagaimana, makanya dia hanya diam dan membiarkan Clara mengoceh.

***

*flashback*

Kemarin sore, di Taman 1 Fatahareya

“Rangga!” Rangga pun menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Terlihat sosok tinggi berambut coklat berkemeja putih sedang berdiri didekat kursi taman. Rangga menghampirinya.

“Ada apa?” tanya Rangga.

“Please protect that princess.”

“What’s on your mind?”

“Please… Can you promise me that you will protect the princess? She isn’t like other prrincess. She doesn’t like protected, but I want you to protect her. Got it?”

“Yeah, I got it. I promise.”

“Thanks. I’ll kill you if you break that promises.” Sosok itu pun kemudian pergi menjauh. Rangga menatap sosok yang semakin menjauh itu.

“Yeah, bunuh saja aku. Karena aku sendiri pun tidak yakin, Kakak..” Rangga pun berbalik dan pulang.

*flashback end*

***

Rangga langsung menuju kursinya di pojok belakang setelah mengantar Clara ke kursinya. Dia, tidak seperti biasanya, membaca sebuah buku catatan kuno.

Intan menyikut Elena. “Woy, itu dia. Cinderella yang biasa ditungguin sama pangeran berkuda putih.” Bisiknya. Elena memperhatikan Clara. “Semua orang dikelas ini suka padanya. Aku sih tidak terlalu dekat dengan dia. Yang aneh adalah, Herr Steffano yang selalu dingin padanya. Segalak-galaknya dia, dia tidak pernah sedingin itu pada muridnya.” Lanjut Intan. Elena hanya mengangguk saja.

BRAAKK! Pintu terbuka dengan kasar secara tiba-tiba, lalu muncul seorang wanita memakai atasan berwarna ungu berbunga-bunga dan bawahan celana putih yang ketat. Anak-anak segera merapihkan penampilan dan meja mereka. Rangga segera menyembunyikan bacaannya di kolong meja.

“Itu siapa?” bisik Elena pada Intan.

“Miss Donna. Dia biasanya baik. Entah kesambet apa.”

Orang yang disebut Miss Donna duduk di meja guru. “Maaf, mood saya sedang tidak baik. Katanya, di kelas ini ada murid baru ya?” tanyanya, menyunggingkan sedikit senyuman.

“Iya, Miss..” jawab anak-anak serempak.

“Dimana anak itu?” tanyanya lagi. Sorotan mata satu kelas pun beralih pada Elena yang sedang diam tidak mengerti. Miss Donna tercengang melihatnya. Jadi benar, dia….anak yang itu?

“Bisakah kau berdiri dan memperkenalkan diri?” perintah Miss Donna dengan nada yang agak ketus.

Elena berdiri. “Saya Zea Elena. Panggil saja Elena.”

Miss Donna terus memperhatikannya dari atas sampai bawah. “Kau pindahan dari mana?”

Elena menutup matanya sejenak, menghembuskan nafas panjang, lalu kembali menatap Miss Donna tepat dimatanya. Tatapannya tajam. “Anda tidak perlu tau hal itu.” Jawab Elena dengan lirih, berat, dan dingin.

Miss Donna tetap memperhatikannya, sampai-sampai Elena merasa risih. Guru ini bukan seorang yuri kan? =.=

“Kau tau, murid Fatahareya dilarang memakai lensa kontak.” Miss Donna menatap tajam matanya. Elena kaget. Apa yang dia bicarakan?

“Maaf, Miss Donna. Ini warna mata asli saya, saya tidak menggunakan lensa kontak.” Elena membantah tuduhan dengan sopan. Miss Donna memutar bola matanya.

“Rambut juga tidak boleh di cat.”tambahnya. Elena semakin bingung. Teman-temannya dikelas sudah menatapnya. Clara menatapnya dengan tersenyum puas, sedangkan makhluk pojokan belakang menatapnya dengan tatapan kosong.

“Maaf, Miss Donna. Ini warna asli rambut saya. Saya pun belum pernah mendengar perihal peraturan tersebut, tidak menerima peringatan dari pihak yang berwenang, dan karena memang saya tidak bersalah. Saya terlahir seperti ini, dan saya tidak bisa menolak.” Sorot mata Elena lama kelamaan semakin tajam. Baru pertama kali dia dapat teguran yang tidak masuk akal seperti ini.

“Jadi? Apa maksudmu? Kau ingin berkata bahwa kau benar dan aku salah? Begitu? Kau ingin mengumumkan pada dunia bahwa kau ini orang asing? Begitu? Jangan sok bule dihadapan saya! Lihat saja, Clara. Dia memang berdarah campuran tapi dia tidak sepertimu. Dia tetap normal dan biasa saja.”hardik Miss Donna. Dia sepertinya kesal sekali pada Elena.

Teman-temannya kaget. Miss Donna yang biasanya baik, menjadi seperti itu. Sepertinya jiwa Herr Steffano dan Miss Donna tertukar *digorok elen=.=* Sedangkan Clara, tersenyum puas di bangku tengahnya. Rasain tuh!

Elena jelas kaget sekali. Ini guru ketinggalan jaman, norak, atau gimana sih. Katanya guru bahasa inggris, payah. Sepertinya, apapun yang dilakukannya selalu salah dimatanya. Elena berpikir bagaimana caranya agar dia bisa selamat dari semprotan guru gila ini. Kalau dia membela diri lagi, benar atau salah pasti kena lagi dia.

“Sorry for interrupt, Miss.” Seseorang mengangkat tangan dan memberanikan diri untuk bicara. Rangga Anthony. “Waktu sudah berjalan sekitar 20 menit dan Fatahareya sangat memperhitungkan waktu. Mungkin, urusan pribadi bisa diurus setelah jam pelajaran.”jelas Rangga sambil memperhatikan jam tangannya. Air muka Miss Donna mulai melembut.

“Terima kasih, Rangga.” Dia tersenyum. “Maaf anak-anak, dan kau, silahkan duduk.” Namun, bukannya duduk, Elena malah beranjak dari bangkunya, menujuke pintu.

“Maaf Miss, saya izin. I still have my jetlag.” Elena pun lalu berjalan keluar. Terdengar olehnya dengusan Miss Donna.

“Kalian semua, kita bisa ambil pelajaran tadi. Janganlah kalian merasa sombong terhadap ilmu yang kalian punya.” Miss Donna sengaja mengeraskan suaranya, agar terdengar sangat jelas oleh Elena yang sudah ada dibalik pintu.

Huh! Sebenarnya, siapa yang sombong sih! Memang tidak tahu diri ==;;. Elena berjalan ke ruang kesehatan dengan kesal. It’s the bad day ever!

***

Dia memperhatikan semuanya dengan seksama. Dia meringis dan menatap kosong kejadian tersebut. “Yeah, kau bisa membunuhku, sekarang, Kakak… I’ve broken my promises”

***

“Hei, kau! Apakah dia sudah menjalankan misinya dengan baik?” tanya sesosok besar yang hanya terlihat bayangannya saja. Hitam dan besar.

“Sepertinya, dia mulai merasa menemukannya. Namun, aku tidak yakin bahwa dia menemukan orang yang tepat.” Jawab sosok berjubah yang tidak terlalu besar perawakannya.

“Pastikan dia menemukan orang yang tepat! Aku tidak ingin mengorbankan banyak nyawa untuk ini.”perintah sosok besar itu.

“Kau yakin, Tuan?” tanya sosok berjubah.

“Yakin apa? Tentu saja aku yakin, bodoh! Hahaha “ sosok besar yang dipanggil tuan tersebut tertawa kencang. Tawanya begitu kencang hingga menggema keseluruh penjuru ruangan. “Pastikan dia menyelesaikan tugasnya dengan segera! Segera kirim peringatan padanya! Aku sudah tidak bersabar lagi menantikan pesta meriah tersebut! Hahaha…” sosok itu kembali tertawa, kali ini diikuti tawa sosok berjubah.

“Baik, Tuan! Laksanakan!”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s