Part 2

“WHAAAAT?!” seru Elena tak percaya. “You say what? Thomas? Oh no…. Don’t joke.” lanjut Elena. Dia mengepalkan kedua tangannya dibawah meja.

“Ya, aku tidak bercanda, Elena. Ada apa memangnya?” tanya Intan heran.

“Kau yakin namanya… Steffano?” tanya Elena menyelidik.

“Yakin. Kau tanya saja yang lain. Sudahlah, kau ini bicara apa sih. Bereskan mejamu, cepat!” perintah Intan. Elena menurutinya.

KRIEEET…. Terdengar suara pintu terbuka. Seluruh murid melayangkan pandangan ke arah suara. “Guten Tag!” Masuklah seorang pria berambut coklat, umurnya sekitar 20-an, dia memakai kemeja coklat dengan motif yang tidak terlalu ramai, memakai celana jeans, sambil membawa tumpukan buku-sepertinya itu buku nilai- dan kacamata tersemat di saku kemejanya. Sebenarnya, pria itu lebih mirip seorang mahasiswa dibandingkan dengan guru. Dengan penampilan begitu, tidak ada yang menyangka kalau anak-anak A2 bilang dia serem.

“Guten Tag, Herr Steffano!” Murid-murid A2 serempak membalas sapaan Herr Steffano, kecuali Elena yang melongo tidak percaya melihatnya.

“Tom?”gumam Elena. Mata azulnya masih membulat. Dia baru tersadar dan mengatur ekspresinya setelah Intan menyenggolnya. Elena merapihkan penampilannya. Ekspresi kagetnya tergantikan oleh ekspresi kesal.

“Disini ada murid baru ya?” tanya Thomas sambil melirik Elena sekilas. Elena membalasnya dengan tatapan tajam.

“Iya…” jawab mereka serempak.

“Oh gadis cantik, kenapa kau menatapku tajam seperti itu?” tanya Thomas tersenyum menahan tawanya. Seisi kelas pun melongo parah. Tidak pernah guru mereka itu tersenyum di kelas, apalagi merayu seperti itu. Mungkin kekuatan magis Elena begitu besar, sampai bisa menaklukan hawa jahat Herr Steffano.

“Shut up, Thomas! And tell me why you were here.” Ujar Elena ketus, dengan tatapan tajam. Seisi kelas melongo lagi. Berani sekali dia pada Herr Steffano, pikir mereka. Thomas terlihat berfikir, mencerna kata-kata Elena mungkin. Elena masih cemberut dan menatapnya tajam, sedangkan yang lain taku-takut menanti reaksi guru yang mereka kenal killer itu.

Tanpa diduga, Thomas tersenyum. Seisi kelas mulai berpikir, kekuatan apa yang Elena miliki sehingga bisa membuat guru ‘es’ itu. “Kenapa tatapanmu tajam begitu?” tanya Thomas heran. Elena bungkam. “Ya sudah, bagaimana kalau kita berkenalan dulu dengan murid baru ini. Setuju?”

“SETUJUUUU!!!” teriak seluruh anak kelas. Kapan lagi coba Herr Steffano baik? Hoho~

“Bisakah kamu maju kedepan, Nona?” tanya Thomas. Dia menghampiri meja Intan dan Elena, sedikit membungkuk dan mengulurkan tangannya pada Elena. Berlagak seperti pangeran-pangeran kerajaan. Tapi, emang dia kaya pangeran sih ._.

Elena pun maju ke depan tanpa menghiraukan Thomas. Setelah Elena berdiri di depan kelas, menghadap teman-temannya, Thomas berdiri tegak dan menghampirinya.

“Siapa namamu?”

“Jangan pura-pura ga kenal.” Desisnya.

“Your name, please?” ulang Thomas, masih tersenyum.

“Elena.”

“Elena. Oh, how beautiful you are…” Thomas mendekati Elena, lalu memperhatikan Elena dari atas ke bawah. “Your eyes, your hair….” ujarnya memperhatikan mata Elena dan mengusap kepalanya. Sontak, anak kelas tercekat. *gombal banget sih tu orang-_-* “I think, you like Meine Schwester….” ujarnya sambil tersenyum, masih menatap Elena dan mengusap-usap kepalanya.

“Kurasa, kau mirip dengan adikku…..” Kata-kata itu membuat Elena tersentak. Kaget. Refleks, Elena pun menjitak kepala Thomas. “What do you think?” tanya Elena ketus. Thomas menatapnya dengan tatapan menyeringai.

OKE. ENOUGH! Pemandangan ini sudah sangat aneh dimata murid A2. Seorang Thomas Steffano, guru bahasa jerman yang killer, dijitak oleh seorang Zea Elena, murid baru yang cantik dan misterius asal-usulnya, dan reaksinya hanya menyeringai. HANYA pemirsa. HANYA. Ini sudah sangat gila-.-

“Argh!” Thomas meringis mengusap kepalanya. “Kupikir, adik perempuanku tidak segalak ini.” Elena menatapnya tajam, bersiap untuk menjitak lagi. Thomas segera pergi menjauh dari Elena. Takut kena jitak lagi.

“Kau galak seperti ayahku, kau tau?” omelnya dalam bahasa jerman, sambil mengusap kepalanya yang tadi. *mantep juga jitakan Elen xD*

Elena semakin kesal mendengernya. “Hei!” panggil Elena. Thomas berbalik menatapnya. “Walaupun ayahku galak, aku masih menyayangi dan menghargainya!” ujarnya dengan nada kesal, dalam bahasa jerman pula. *author ga sempet nerjemahin TwT* Dan mereka pun terus bertengkar dalam bahasa mereka yang sama sekali tidak dimengerti oleh masyarakat A2 yang sudah cengo parah.

Rangga terus memperhatikan mereka. Ya, Herr Steffano dan Elena. Rangga mengerti beberapa kalimat yang diucapkan mereka, namun tidak semua. Mereka berbicara terlalu cepat. Sebenarnya, dia itu murid baru atau alien nyasar sih, pikirnya. Selanjutnya, pikirannya pun melayang dan pandangannya terfokus pada kursi yang tepat sekali ada ditengah kelas.

“Elena! Jangan bertengkar disini!”ujar Thomas dengan tegas pada Elena, sambil memperhatikan anak A2 yang cengo parah.

“Siapa duluan coba yang mulai?” balas Elena kesal.

“Kita lanjutkan nanti.” Thomas menepuk pundak Elena pelan. Elena pun langsung diam menghadap teman-teman mereka, diikuti dengan Thomas yang berdiri di sampingnya. “Maaf, anak-anak. Ayo kita lanjutkan acara perkenalan murid barunya. Siapa yang mau memberikan komentar tentang anak jutek ini?”tanya Thomas dengan nada bercanda. Elena menyikut Thomas. Thomas hanya ngengir tanpa dosa.

Masyarakat A2 memikirkan apapendapat mereka tentang Elena. Mereka belum terlalu mengenalnya, dan penampilan luar yang dipikirkan mereka sudah semuanya disebutkan oleh Herr Steffano.

“Saya, Herr.” Rangga mengangkat tangannya dengan wajah datar menyeringai. Elena membulatkan matanya. Dia menatap Rangga tajam. Apa yang akan dikatakan makhluk aneh ini, pikir Elena.

“Oke, Rangga. Bagaimana menurutmu anak baru ini?” tanya Thomas.

“She is….Babo wa baka hime. She looks foolish, I think.”ujar Rangga dengan menyeringai licik. Kelihatannya dia puas sekali, apalagi respon Herr Steffano yang ngakak parah.

“What?!” Elena cengo parah. Dia memang tidak mengerti apa yang Rangga katakan, tapi kata terakhirnya…….asdfghjkl-.- Elena menatap Thomas yang ngakak parah. Puas sekali makhluk itu. “Udah, jangan ketawa! Puas banget ya?!” sindir Elena pada Thomas. Thomas mengangguk disela-sela ketawanya. “Rangga! What do you say? I’ll kill you!” ancam Elena. Tawa Thomas menjadi-jadi, sedangkan Rangga memutar bolamatanya, mengejek Elena. Anak A2 ikut tertawa. Ini adalah kali pertamanya Herr Steffano tertawa sepuas itu, tidak boleh disia-siakan. Cakep juga Herr Steffano kalo lagi ketawa //plak//

“Stop. Sekarang, kita mulai belajar.” Thomas menghentikan tawanya dan kembali memasang wajah serius. Terdengar helaan napas dari seluruh ruangan. “Elena, kembali ketempat.” Perintahnya.

“Ja, Herr.” Elena menghampiri kursi dengan malas, lalu menyimak pelajaran dari Herr Steffano, dengan jiwa antara dunia mimpi dan dunia nyata.
“Gila lu, bisa banget jinakin dia.” Ujar intan menunjuk herr steffano.

“Dia emang ga bisa marah.”tanggap Elena santai.

“Lu ga tau sih gimana dia sebelum ada lu. Sangar gila. Tapi, kok lu malah jutek gitu sih? Jarang-jarang tau dia baik begitu. Pas ngeliat dia senyum gitu, gua sadar kalau dia sebenernya keren juga.” Jelas Intan yang sekarang sedang nyengir-nyengir ga jelas.

Elena menatapnya miris, sambil sekilas melirik Thomas. Iya sih, diliat darimana pun juga makhluk itu emang keren, tapi……. tetep aja rese nya mengalahkan ke-keren-an-nya. “Heeeh, naksir ama dia, Tan? Jangan dah. Adenya serem(?). Tapi kalo ngebet banget, ntar gua bilangin.” Katanya asal.

“Kaga lah! Tapi kan, seserem-seremnya Nona Steffano, masih sereman elu, kata dia.” Intan nyengir kuda dan membentuk tanda ‘peace’ dengan jari telunjuk dan jari tengahnya.

Elena menyipitkan matanya, menatap Intan tajam. Intan akhirnya sibuk meminta maaf pada Elena. Elena sebenarnya bukan marah karena dibilang seram, tapi dia marah karena nama ‘Steffano’ yang disebutkan. Entah kenapa, sepertinya dia alergi sendiri terhadap nama itu. Menurutnya, nama itu telah mengacak-acak hidupnya seperti badai topan.

“Baiklah, anak-anak. Saya sudahi pertemuan kali ini. Guten tag!” Herr Steffano pamit dan berjalan menuju pintu. Tapi, diambang pintu, Herr Steffano kembali berbalik. Anak-anak yang tadinya lega, kembali tegang. “Elena. Ikut ke meja saya.” Herr Steffano memanggil Elena dengan tegas, membuat yang lain semakin tercekat. Semua mengira-ngira, apa yang akan terjadi pada Elena, termasuk Elena sendiri berpikir seperti itu.

Elena mengangguk. Dia berjalan menuju pintu dengan tenang. Untuk pertamakalinya, dia melihat Thomas setegas itu. Ternyata dia bisa begitu juga, pikirnya. Elena mengikuti Thomas dan mencoba mengimbangi langkahnya. Dia tidak mau tersesat dihari pertama. Tidur saja sudah cukup memalukan.

Mereka berdua menyusuri lorong-lorong dan melewati bangunan-bangunan di Fatahareya. Diluar terang sekali, gumam Elena. “Kau suka?” tanya Thomas.

“Ya, sepertinya…” ucapnya pelan. Tak lama, sampailah mereka disebuah bangunan berbentuk kastil. Didepannya ada papan bertulisan, ‘Languange Room’. Thomas membuka pintunya, diikuti Elena.

Dalam ruangan itu, tidak terlalu istimewa. Hanya ada sebuah area luas ditengah, dan dipinggir-pinggirnya terdapat meja-meja berpapan nama. Mereka pun menghampiri meja bertuliskan, ‘Thomas H. Steffano, Bahasa Jerman’. Elena bergidik membacanya. Thomas duduk dikursinya dan menyuruh Elena untuk duduk disampingnya.

“Mau apa kau?” tanya Elena masih dengan nada ketus.

“Kau kenapa sih? Sepertinya kau benci sekali padaku. Ayolah, aku tidak mau bertengkar dengan mu.”

“Ini semua karena kau! Apa-apaan ini! Kukira kau ada di pihakku! Ternyata apa? Kau berkhianat! Apa-apaan kau memakai nama itu segala? Mau pamer? Pokoknya aku tidak rela memakai nama itu! Ada di perjanjian apa kalau aku harus mengganti nama? Apakah kita akan dihukum mati jika tidak mengganti nama?” tanya Elena bertubi-tubi, dengan nada tinggi. Dia sudah kesal sekali dengan makhluk didepannya ini. Masalahnya satu, mengganti nama.

Thomas kaget melihat Elena yang begitu emosi. Nada bicaranya tingi sekali, cenderung membentak malah. Thomas pun melihat ke sekeliling. Para pengajar yang sedang ada diruangan tersebut, sedang menatap mereka berdua dengan mengernyit aneh. Thomas mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Elena. “Sorry everyone. This girl is stressed so much.” Ujarnya meminta maaf dan membungkuk kepada semua orang. Orang-orang pun kembali pada kesibukannya masing-masing.

“Jangan bicara keras-keras seperti tadi. Orang-orang memperhatikanmu, dan tidak menutup kemungkinan kalau mereka mengerti. Got it?” Thomas berbicara dengan nada rendah dan sangat pelan di telinga Elena. Elena pun mengangguk tanda mengerti.

“Akan ku jelaskan padamu tentang semuanya. Untuk pelajaran sehabis ini, biar aku yang urus.” Ujarnya. Elena hanya mengangguk. Dia sudah sangat malu diperhatikan orang banyak seperti tadi >///<

“Sebenarnya, mama mengkhawatirkanmu. Dia sangat mengkhawatirkanmu. Makanya, kau ku masukan ke kelas A2, agar bisa mengawasimu.” Thomas menerawang. Dia membayangkan mama yang sedang nun jauh disana.

“Dia bisa mengkhawatirkanku? Kukira dia sudah melupakan ku.”ucap Elena asal.

Thomas menatapnya sinis. “Watch your mouth, Elena. Dia sangat mengkhawatirkanmu. Sepertinya, ada sesuatu yang sangat ingin dia katakan padamu. Sesuatu yang penting. Aku pun belum tahu pasti itu apa.”lanjutnya.

“Lalu, yang menjadi pertanyaanku adalah, mengapa kau memakai nama itu? Mengapa kau memakai nama Steffano?”tanya Elena jutek. Thomas tersenyum.

“Registrasi nama. Kalau kau tidak mau memakainya juga tidak apa-apa. Di absen mu tidak ada nama itu kan? Karena aku tahu, kau pasti akan lebih marah dari ini.”

“Tapi, kenapa kau pakai? Tetap saja itu membuatku muak. Kau berkhianat! Kita ada di kubu yang berbeda sekarang!” Elena memalingkan wajahnya ke arah lain.

“Huuuuft, itu sih urusanku.” Thomas mengehpaskan tubuhnya, bersandar di kursi. “Lagipula, sebentar lagi juga nama mu akan berubah menjadi Anthony, kan? Haha~” Thomas tersenyum penuh arti pada Elena. Elena menatapnya bingung.

“Apa maksudmu?”

“Aku yakin tak lama lagi kau akan menjadi keluarga Anthony.” Thomas menatapnya penuh keyakinan. “Jadi, kau tak usah terlalu ribut tentang urusan nama. Toh, sebentar lagi juga namamu akan berganti.”

“Tau darimana kau? Kau sudah seperti nenek peramal saja. Lagipula, siapa itu keluarga Anthony?” tanya Elena semakin heran. Makhluk di depannya ini sudah bagaikan nenek-neke angker dimeja peramal.

Thomas bangkit dari sandarannya, lalu merangkul Elena. “Anak itu, yang menyebutmu baka hime. Rangga Anthony. Hahaha =))” Thomas langsung tertawa puas setelah mengatakannya. Elena memajukan bibirnya, lalu menjitak kepala Thomas keras.

“Oy! Menjitak kepala orang yang lebih tua itu tidak sopan, tau!” omelnya pada Elena, sambil mengusap-usap kepalanya yang sakit.

“Lagian, salah sendiri mancing-mancing orang.” Balas Elena kesal. “Lagipula, memang kau mengerti apa yang dikatakannya?”

“Kau jangan meremehkan seorang Thomas Harits Steffano. Pelangganku ini dari mancanegara. Bahasa begitu saja sih aku juga tau. Haha..” ucapnya sombong. Elena menatapnya cemberut. “Memang benar ya, kau ini ‘baka hime’. Selamat menanti ya, Nyonya Anthony, haha xD” Thomas terus tertawa puas. Sedangkan Elena menatapnya sengan kesal.

Apa-apaan makhluk ini. Seenaknya saja menjodohkanku dengan makhluk rese itu, pikirnya. “Tak ada kunci apartemen!” katanya tegas sambil membuang muka. Thomas langsung tersadar. Oh God, Where I gonna sleep tonight?!

Ketika mereka asik dengan dunianya, di sudut lain, ada yang memperhatikan mereka dengan tatapan tajam dan mengancam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s