Part 1

“Perkenalkan, nama saya Zea Elena. Kalian bisa panggil saya Elena. Mohon bantuannya, senang bertemu kalian.” Elena tersenyum, menampilkan lesung pipit dikedua pipinya yang putih pucat. Ya, kalimat perkenalan itu membuat Elena resmi menjadi anggota baru diruang A2, IT Fatahareya.

Anak-anak A2 bersorak. Mereka senang kedatangan murid baru. Apalagi wajah Elena yang jauh sekali dari wajah oriental. Anak laki-laki semuanya menatap Elena terpana. Serasa ada bidadari masuk ke kelas.

“Ada yang ingin ditanyakan?” tanya Bu Heni, guru BK. Semuanya pun sibuk berbisik untuk menentukan pertanyaan mereka dengan antusisas. Kecuali satu orang, dipojok kanan yang menatapnya sinis. Dia pun menjadi orang pertama yang mengangkat tangan. “Rangga. Apa pertanyaanmu?’’ tanya Bu Heni.

“Darimana lo?” tanya Rangga sinis. Membuat Bu Heni menegurnya, “Rangga! Yang sopan kamu!” Rangga pun membetulkan posisi duduknya serapih mungkin, sedangkan mata azul Elena memperhatikannya dengan tatapan heran. “Oke, Zea Elena, darimana anda berasal?” tanya Rangga dengan sangat sopan, tanpa menghilangkan nada sinisnya.
Dalam hati, Elena memaki cowo satu itu. Benar-benar menyebalkan!, batinnya. “Am I need to answer? Do you wanna go to my hometown if I let you know where is it?” Elena bertanya balik pada Rangga, sambil tersenyum. Anak-anak yang lain menatapnya takjub. Sedangkan Rangga, gondok setengah mampus! Dia benar-benar dendam kesumat pada Elena.

“Oke. I got it,” ujar Rangga jutek. Awas aja lo!, batinnya.

“Baiklah, waktu kenalan sudah habis,” kata Bu Heni, yang disambut dengan suara keluhan. “Kita akan mulai pelajaran. Untuk Elena, silahkan duduk dibangku kosong, disebelah Rangga.”

JEGEEEER! Elena bagai mendengar petir di siang bolong. Dia yang tadinya tersenyum saja didepan, reflek menghadap Bu Heni dengan tampang terkejut. “Nein, Frau!” sahutnya tegas. Bu Heni menatapnya bingung.

“Ada apa Elena?” tanya Bu Heni.

Elena pun menyadari perkataannya tadi. “Hm, tidak apa-apa, Bu. Maksud saya tadi, saya mempunyai gangguan pengelihatan. Jadi kalau duduk dideretan belakang, saya kesulitan belajar.”jelas Elena lebih sopan dan pelan-pelan.

“Baiklah. Reno, kamu pindah kebelakang. Biar Elena yang duduk disebelah Intan.” Reno pun membawa barang-barangnya ke belakang, ke meja sebelah Rangga. Elena berjalan ke bangku Reno tadi yang berada dibarisan kedua, pojok kiri. Lumayan, jauh dari anak itu, pikir Elena. Elena tersenyum pada Intan, begitu pula Intan yang memberi jalan pada Elena untuk duduk. “Thanks,” ujar Elena.

“My pleasure,” balas Intan sambil tersenyum juga. Gadis kecoklatan itu mengulurkan tangannya setelah mereka berdua duduk di bangku. “Intan Rahmasari. Panggil saja Intan.”katanya.

Elen menerima uluran tangannya. “Elena. Zea Elena.”sahut Elena. Ketika Intan dan Elena sedang berbincang, sepasang mata coklat milik makhluk penghuni pojok kanan belakang sedang memperhatikannya tajam. “I know…,” gumamnya. Dia juga menarik ujung bibir kirinya ke atas, tersenyum misterius yang terkesan sinis.

TINGNONG! Bel istirahat telah tiba. Seluruh siswa berhamburan menuju pujasera. Sepertinya, para siswa itu memang lebih antusias pada bel istirahat dibandingkan dengan bel masuk. Reno dan Rangga menghampiri Intan yang duduk di sebelah Elena. “Tan, makan yuk. Laper gua.”ajak Reno sambil memagangi perut. “Cacingnya pada demo nih.”

“Ehm, oke. Bentar ya.” Intan membereskan buku-bukunya terlebih dahulu, lalu memasukannya ke laci meja.

“Eh Tan, dia tidur daritadi?” tanya Rangga heran. Dia memperhatikan Elena yang tidur dimeja dengan damai. Diikuti dengan Intan dan Reno. Melihat Elena seperti itu, Reno pun memandang Intan, meminta jawaban atas pertanyaan Rangga.

“Iya, daritadi gua bangunin malah tidur lagi. Untung Bu Hena sama Bu Karii baik. Kayaknya dia kecapean.”jelas Intan.

“Coba bangunin gih, siapa tau dia kelaperan.”suruh Reno. Intan pun menggerakan bahu Elena, mencoba membangunkannya.

“Elena, bangun Len, udah istirahat.”kata Intan lembut. Usaha Intan sepertinya tidak sia-sia, mata Elena perlahan-lahan terbuka, menampilkan warna irisnya yang indah. Elena yang masih linglung menatap Intan dengan tatapan, ada apa membangunkanku? Rangga berusaha menahan tawanya, sedangkan Reno menatap Elena cengo. Mata azul Elena yang menangkap kehadiran Rangga langsung menatapnya tajam.

“Udah istirahat, kita mau ke pujasera untuk membeli makanan. Mau ikut tidak?” tanya Intan. Baguslah, suara Intan mengembalikannya ke alam sadar, sekaligus menyelamatkan Rangga dari terkaman mata azulnya.

“Kemana tadi? Puja… puja… puja apa?”

“Pujasera.”celetuk Rangga, yang disambut tatapan tajam Elena.

“Kalian duluan saja, dia sudah tersiksa.”kata Elena sambil menunjuk ke arah Reno. Entah ilmu apa yang dia pakai untuk bisa melihat cacing-cacing diperut Reno sedang demo.

“Ya sudah, kami duluan.” Intan, Reno, dan Rangga pun keluar kelas, menuju pujasera dan meraup makanan sepuas-puasnya.

“Sial, perbedaan GMT memang gilaa!” erang Elena kesal, sambil merapikan rambutnya yang berantakan. Memang sebenarnya ini jam tidur dia. Dia belum terbiasa dengan perubahan waktu yang signifikan. Hoaaaam…. dia menguap lagi.

“Eh, sumpah ini pujasera apa tempat pembagian sembako! Kaga ngerti apa, gua laper nih laper!” omel Reno. Memang benar, saat ini pujasera lebih mirip antrian minyak tanah dibandingkan dengan pusat jajanan.

“Udahlah Re, ambil aja apa kek yang ada. Yang ngenyangin. Kalo lu ngomel terus yang ada tambah laper, pea!”ujar Intan yang kesal akan kelakuan Reno. Rangga hanya mendengarkan dua sahabat itu beradu mulut.

“Oy, Ren, Tan, gimana kalo lu berdua makan diluar aja deh. Kalo pujaseranya sepenuh ini, pasti diluar sepi banget.” Rangga memberi usul. Intan dan Reno memperhatikan Rangga sambil berpikir.

“Ya iyalah dodol! Harga makanan diluar tuh pada naik gila, makanya orang-orang pada ke pujasera.” Intan dan Reno meneriaki Rangga. Intan kuping kanan, Reno kuping kiri. Rangga menutup kedua telinganya dan mengelus-elusnya.

“Setdah lu berdua kompak amat sih neriakin gua.”umpatnya.

“Lagi elu dodol banget, Ga. Budget makan gua cuma segini.” Reno memperlihatkan selembar uang kertas sepuluhribuan. “Iya tuh, Ga!” Intan menimpali sambil mengangguk-angguk setuju.

Rangga menggeleng-gelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan dua makhluk ini. Dia pun berpikir. Tiba-tiba, dia merasakan sesuatu yang tidak enak. Ketika dia mendongak, Intan dan Reno sedang memperhatikan dia sambil memasang puppy eyes mereka. Rangga mengernyit heran, lalu sesaat kemudian mengerti. “Iya dah iya. Nih gua kasih budget tambahan buat lo berdua.” Rangga mengeluarkan uang duapuluhribuan dari dompet, lalu menyerahkannya ke Reno dan Intan. “Lu makan dah berdua, gua duluan ya.” Rangga pun cepat-cepat kabur dari sepaket hemat itu, sedangkan si sepaket hemat langsung menuju ke tempat makanan idaman mereka.

Rangga berjalan cepat menuju ruang kelas. Ternyata, firasatnya benar. Dilihatnya Elena sedang memejamkan mata dengan kepala di atas meja. Rangga menarik napas panjang, lalu mengembuskannya. “Huuuft… Udah gua kira. Tu bocah pasti tidur lagi.” Rangga berjalan menghapiri Elena, lalu duduk disebelahnya.

“Sie ihr nicht heiraten, Mom…” ujar Elena lirih. Mengigau. Sontak Rangga langsung memperhatikannya. “Wo ist Papa?” Elena terus mengigau. Tiba-tiba, Rangga melihat ada beberapa butir air turun melintasi pipinya. Dia bisa nangis juga, pikir Rangga. Entah dapat pikiran darimana, perlahan tangan Rangga mengusap air mata yang ada di pipi Elena. Dia memperhatikan wajah tidur Elena.

Elena menggerakan kepalanya sedikit. Spontan, Rangga menarik tangannya dan langsung menjauh. Dia sadar akan apa yang sudah dilakukannya. “Shit! Apaan sih gua. Gua kan kesini buat jailin dia. Pele emang lu, Ga.”umpat Rangga pada dirinya sendiri, sambil mengusap tengkuknya. “Mungkin diluar gua bisa lebih mendapatkan inspirasi.” Rangga pun keluar kelas, untuk mencari cara mengerjai Elena.

10 menit kemudian, bel masuk berbunyi. Anak-anak kelas langsung memadati kelas, dan membereskan mejanya masing-masing. Sedangkan Elena, dia baru sadar dari alam mimpinya.

“Pelajaran apa, Tan?” tanya Elena sambil beberapa kali menguap dan mengkucek-kucek matanya.

“Foreign languange.” Jawab Intan singkat, sambil terus membereskan meja. Elena terus memperhatikannya. Perasaan mejanya udah rapi.

“Emang apaan? Galak ya?” tanya Elena lagi.

Intan pun duduk menghadap Elena. Dia menarik kedua tangan Elena, lalu menggenggamnya. Tatapannya serius, membuat Elena tambah heran. “Dengerin ini, Len… Aku tau kamu murid baru disini. Sekarang, aku akan memberitahumu sesuatu yang penting ini.” Intan membuat intonasinya seakan-akan dia narator drama bergenre horor.

“What is it?” tanya Elena tidak sabar.

“Pelajaran ini adalah pelajaran yang sangat mendebarkan. Gurunya menyeramkan. Lebih mirip pajangan museum daripada seorang guru bahasa. Salah sedikit saja sudah memicu sumbu kompor untuk menyala dahsyat! Meja dan penampilan harus ekstra rapi. Persiapkan itu, Elena.”jelas Intan. Memang terlalu berlebihan, tapi nyata.

“Mengapa kalau dia marah? Memang bahasa asingnya apa?” tanya Elena lagi. Dia antara percaya dan tidak pada penjelasan Intan.

“Kalau dia marah, kelas langsung beku semua. Haha…” kata Intan sambil tertawa. Elena mendengus melihatnya. “Bahasa Jerman. Herr Thomas Steffano.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s