Pack of Missing You [2]

[2/-]

“Miss Elinaratna?”

Akifa menoleh. Di ujung deret kursi, seorang pramugari memanggilnya. Pramugari itu menyodorkan sesuatu, menimbulkan tanya di benak Akifa. “Apa ini?”

“Titipan dari Captain Erai. Silakan,” ucapnya ramah.

Dengan benak yang masih meragu, Akifa mengambil benda tersebut. Sebuah ponsel keluaran terbaru yang dibalut kertas putih.

‘Langit buat kamu. Balikin nanti aja pas turun —Er.’

“Dasar,” gumamnya. “Thank you, Miss.” Diiringi senyum Akifa, Sang Pramugari menyingkir.

 

•••

 

“How’s your flight?” tanya suara di sebrang dengan nada ceria.

Akifa pun merapalkan sumpah serapah yang sudah ia siapkan sejak masuk pesawat. Sialan Kaan!

“Apanya yang how’s your flight? Lo tuh ya, penuh konspirasi banget!” omelnya setelah mengambil koper. Tangan kirinya menyeret koper sedangkan tangan kanannya memegang ponsel. “Jahat banget lo sama gue!”

“Dih, dih! Apanya yang jahat? Gue kan udah berbaik hati bayarin tiket lo.”

“Bukan lo, itu uang perusahaan!” Kifa mendengkus. Omelannya menuai tawa dari seberang sambungan.

Gue kan nanya baik-baik, lo malah bales penuh cabe gini. Ada sesuatu ya?”

Kaan tidak dapat menyembunyikan nada jahilnya. Akifa tau itu. Sahabat jaharanya sangat menguji kesabaran. Pembalasan akan selalu ada. Lihat saja nanti, bocah!

“Gue dapet hape dong! Samsul S9++! Gewla men kece badai!”

Kaan tertawa di seberang mendengar celotehan Kifa yang super lebay. Beberapa orang bahkan menatap Kifa dengan wajah aneh. Kifa sadar, tentu saja. Setelah itu ia mencari tempat yang agak sepi, lalu duduk untuk mengistirahatkan tubuhnya.

“Punya abang gue ya Kif?”

“Nah! Kenapa lo bisa nebaknya ini punya abang lo?” tanya Kifa dengan nada penuh tuduhan. Diam-diam ia tersenyum licik karena berhasil menjebak Kaan.

Namun, tanpa diduga Kaan malah tertawa makin kencang seolah tak ada hari esok. Hal ini membuat ia mengernyit heran. “Kenapa sih lo? Ketawa gak jelas!”

Mati-matian Kaan mengontrol tawanya. “Ya ampun, Kif, jadi si Abang beneran nyusulin lo?”

Kifa mendengkus keras. “Apanya yang nyusulin? Dia on duty, woi! Lo sengaja ya?”

“Apaan? Bukan gue! Itu inisiatif Bang Erai. Dia tuh yang penuh konspirasi.”

“Tapi darimana dia bakal tau flight number gue kalau bukan dari lo yang mesenin tiketnya, Kaan bego?”

“Serius, Kif, bukan gue. Pas lo lagi di KL itu, gue gak sengaja bilang ke Si Abang kalau lo juga lagi di KL. Habis itu dia nanya kapan lo pulang. Gue kirim aja booking tiketnya ke dia.”

Rasanya Kifa ingin menjambak rambut Kaan saat ini juga. Kaan polos banget sih di depan kakaknya. Kadang pula polos dan bego itu beda tipis. “Bego sih. Lo tuh ya, gimana kalau itu bukan abang lo terus orang itu niat jahat sama gue, hah?”

“Ya kan gue ngasihnya cuma ke si Abang. Gue juga gak nyangka kalau si Abang ajimumpung begitu. Lo sekarang di mana?”

Kifa melirik ke sekitarnya. Sudut tempat duduknya lumayan sepi. Ia duduk dekat toko roti. “Masih di bandara. Gue takut kena laporan pencurian. Abang lo sih!”

“Cie nungguin abang…”

“Diem lo! Gue sumpel pake kaos kaki!”

 

“Hei, maaf nunggu lama.”

•••

 

Kini, Erai dan Kifa duduk berhadapan di sebuah kedai kopi. Erai duduk santai dan menatap gadis di depannya lembut sedangkan Kifa menatap pria berseragam di depannya dengan tatapan menuduh.

“Jadi, kenapa bisa Kak Erai di sini?” tanya Kifa dengan nada yang dibuat dingin.

Erai terkekeh geli. “Kalau kubilang kebetulan, kamu percaya gak?”

“Enggak lah!” Kifa mulai nyerocos dengan semangat ’45. “Bisa ketemu Kak Erai dari sekian banyak penerbangan itu gak mungkin cuma kebetulan belaka! Apalagi yang pesan tiket si Kaan, pasti ada apa-apanya!”

“Tapi kalau kubilang takdir, ini memang bagian dari takdir, kan?”

“Iya lah. Kalau bukan takdir, mungkin Kak Erai bisa mendadak diare terus gak bisa terbang walau udah mengusahakan segininya.”

Gemas, Erai mencondongkan tubuhnya. Ia menjulurkan tangan untuk mengusap puncak kepala Kifa. “Kamu dendam banget kayaknya, Dek.”

Kifa menggeleng. “Bukan dendam sih. Gak nyangka aja. 6 tahun gitu, Kak Erai tiba-tiba muncul dalam skenario penuh rekayasa mencurigakan gini.”

Jeda terbentuk karena pesanan mereka sama-sama datang. Keduanya pun memilih untuk mencicipi pesanan tanpa basa-basi.

Iseng, Kifa menatap tanda pangkat di pundak Erai. Ia tak dapat menahan senyumnya. “Ngomong-ngomong, selamat ya, Kak. Akhirnya jadi kapten. Walau tadi di pesawat aku dengernya muak maksimal, tapi kalau liat langsung gini rasanya bangga juga. Kakak udah bekerja keras.”

“Ya, enam tahun ini cukup sulit. Tapi setiap di atas langit, ngeliat pemandangan itu setiap hari, keingetnya kamu terus.” Erai berdeham sambil memainkan ponselnya di atas meja. “Makanya kutanya, mimpimu masih sama, kan?”

Kifa mengangguk. “Sama, kok. Cuma gak ada teman euforia aja. Oh iya, langitnya… makasih, ya.”

“Sama-sama.”

 

Kini, mereka sama-sama diam. Mereka menatap satu sama lain, menyelami manik satu sama lain. Keheningan kali ini adalah jenis keheningan yang nyaman. Waktu seakan berhenti di sekitar mereka.

 

“Kakak kangen banget sama kamu.”

“Adek juga kangen Kakak. Senang rindu adek terbalas.”

 

[] [tbc maybe]

 

an.

Mereka ini yang surat-suratan di 「てがみ」. Sedikit perubahan sih, gak pernah sama sekali kebayang bikin karakter pilot. Hahaha.

Nulis ini tuh aku semacam “mbuhlah yang penting kusenang”.  Butuh distraksi dan kebetulan ada distraksinya, hajar aja!

 

Rindu itu berat—HAHAHAHA. Rafael dan Mbak Kez mungkin kapan-kapan kalau aku kepikiran lagi adegan backstreet mereka. Aku lagi agak stress nginget2 latar ke situ, padahal baru sehari ya.

Iklan

Hide It For Awhile, Please.

[1/-]

 

Dua sejoli berboncengan membelah jalanan Jakarta dengan jalur selap-selip karena macet pagi hari. Beberapa kali Si Perempuan yang dibonceng mengomel pada Si Pengendara dengan kalimat “Kamu mau kita sampai di rumah sakit pakai ambulance?!”. Si Pengendara malah terkekeh tanpa dosa.

Mereka pun sampai di jalan satu arah yang lumayan lenggang karena titik chaos sudah terlewati. Si Penumpang, Kezia, mulai melirik kanan-kiri dengan was-was. Ketika sampai di area ini, ia meningkatkan kewaspadaan.

“Ngapain lirik-lirik sih, Beb?” tanya cowok di depan. Ia mulai mengurangi kecepatan ketika menyadari kekasihnya bertingkah aneh. “Nyari sarapan?”

“Bukan!” Kezia menggeleng cepat. “Raf, aku turun di kencana aja ya.”

“Kenapa?” Rafa melirik lewat spion dengan alis bertaut. “Lumayan itu. Nanti kamu capek.”

“Kan masih pagi, seger,” ujar Kezia tanpa menjawab pertanyaan Rafa.

“Kita beneran backstreet ini? Kenapa sih? Karena aku masih koas? Malu pacaran sama brondong kece badai idaman para wanita?” Rafa memborong pertanyaan yang membuat Kezia pusing seketika. Lebih pusing dengar kalimat narsisnya sih dibanding pertanyaannya.

Ini orang emaknya ngidam apa sih dulu? Pedenya selangit gini! Brondong kece badai idaman para wanita katanya? Cih!

“Pede banget! Tadinya aku mau prihatin tapi narsismu bikin sebel tau gak?” Ingin rasanya Kezia menyiksa Rafael seperti biasa. Namun, ia masih sayang nyawa.

Rafa berbelok ke jalanan yang agak sepi, lalu berhenti di pinggir. Kezia menoleh ke sekitarnya. Mereka belum sampai, lho? “Kok berhenti?”

“Turun.”

“Heh?”

“Gak mau ketauan sama temenmu kan? Di sini aja sekalian. Kata kamu kan masih pagi, jalan juga seger,” sindir Rafael. Ia membuka helm, lalu menyugar rambutnya agar kembali tampil badai.

Merasa tersindir, Kezia memajukan bibirnya. Ia menampilkan wajah cemberut yang selalu membuat Rafael tertawa saking jeleknya. Iya, Rafael itu jahat.

“Rafa, aku gak mau kamu salah paham ya. Tau kan manusia IGD itu keponya keterlaluan? Ogah banget aku dicengin mereka! Mereka tuh nerornya nonstop sampai puas!”

Rafael tertawa. Awalnya ia tersinggung. Tapi, alasan Kezia boleh juga. Ia tau Kezia-nya ini seakan punya label “bully aku” di dahinya. Belum lagi, sebelum ini sejarah percintaan Kezia tak teridentifikasi. Tiba-tiba pacaran dengan koas yang terkenal tebar pesona seperti dirinya bisa membuatnya digodain nonstop!

“Mereka tuh tau banget ya mana yang asik diusilin,” komentarnya dengan tawa yang semakin menjadi.

Kezia memukul keras punggung pria itu hingga yang bersangkutan mengaduh. Mumpung lagi minggir, pikirnya. “Diem! Udah deh, aku turun di sini!”

Kezia turun dan membuka helmnya. Rafa dengan sigap menyimpan helm Kezia dengan aman.

“Nah, beb—”

“Jangan panggil beb! Geli!”

Rafa tersenyum geli. “Oke, dokter Kezia. Mau peluk dedek Rafa dulu sebelum bertugas? Konon pelukan Rafael Wijaya itu penyemangat banget, lho!”

Dengan wajah panas, Kezia maju. Ia melingkarkan lengan di leher Rafa, lalu mencium belakang lehernya. “Semangat juga belajarnya, dek koas!”

•••

“Pagi semua!”

Kezia menatap heran pemandangan di depannya. Jarang-jarang staff IGD berkumpul. Bahkan yang habis jaga malam pun ada di sana walau ia tau mereka pasti ngantuk banget. Bu Indah, perawat super rumpi, duduk paling depan dengan tatapan menuduh.

Oh, God. Apa ini?

“Hei, kalian kenapa?” Kezia beralih pada Arvin yang habis jaga semalam. “Vin, lo gak balik? Biasanya kabur paling awal buat ketemu kasur.”

 

Bu Indah pun menghampirinya. Masih dengan tatapan menuduh yang membuat Kezia berdiri tegap. Mode siaga, nih.

Bu Indah mengeluarkan ponselnya, lalu memperlihatkannya pada Kezia.

Deg.

“Dokter Kezia, apa ini? Deket kencana, pinggir jalan, pelukan?”

 

[END]

 

an. Pas jalan pulang dari rumah sakit ke stasiun, aku kepikiran ini. Ada sepasang anak manusia yang backstreet karena takut dicengin, hahaha. Tokohnya entah kenapa langsung kepikiran Rafael. Dia tokoh cameo lama sebenarnya. Aku pikir bentukan dia yang begini bakal jadi hiburan banget bagi Kezia yang stress terus di IGD. Ehehehehe.

Dari awal kubuat Rafael emang suka teteh-teteh. Yah….. selera dia agak-agak. Ini pun kayaknya cerita brondongan pertamaku hahaha. Aku kepikiran buat yang lainnya, tapi gak tau kalau bakal series bersambung gitu karena gak tau harus ngasih mereka konflik apa. Biarlah mereka unyu-unyu gini.

Pack of Missing You

[1/-]

Langkah perempuan itu terhenti di tengah garbarata. Ia sedikit menyingkir agar tidak menggangu orang yang lewat. Dari sana, ia melihat sosok itu. Sosok yang selama ini ia tunggu berdiri dengan gagah di pintu pesawat bersama seorang pramugara. Ia memerhatikan tanda pangkat di pundaknya.

Ah, garis empat. Dia benar-benar pekerja keras, ya, enam tahun ini.

Tidak pernah terpikir dalam mimpi gilanya sekali pun jika dalam perjalanan kali ini orang itu akan menjadi pemandunya.

Setelah memantapkan hati, ia segera bergabung dengan arus penumpang. Sebisa mungkin ia mengatur agar ekspresi wajahnya biasa saja, juga mengatur matanya agar tidak melirik pria itu.

Walau ia akan kecewa jika lelaki itu tidak mengetahui keberadaannya di kursi penumpang, ia mengira itu lah yang terbaik. Pertemuan mereka akan membutuhkan waktu panjang. Lelaki itu harus bekerja.

Setelah mati-matian menutup wajah dengan gerai rambut dan menunduk sepanjang jalan, dugaanya meleset.

“Apa mimpimu masih sama, Adik?”

Jantungnya berdetak kencang. Ia tidak yakin harus berbuat apa, tetapi ia cukup waras untuk tidak berbalik ketika pria itu menyapanya.

Tidak. Tidak sekarang.

 

[1/-] [tbc]

 

an. Garis empat itu kapten penerbangan.

Pak Bear

IMG_7098Pak Bear ini pelipur lara banget. Dia nemenin gue pas gue kesepian, dia dengerin curhatan gue, dia selalu senyum walau gue nangis tiba-tiba. Seketika gue ngerasa kayak bocah karena seneng ndusel-ndusel ke boneka beruang.

Wujud Pak Bear ini bapak beruang dari Paddington Bear. Unyu dan bersahaja banget. Suka terharu aku liatnya. Gue namain Pak Bear karena dia bapak-bapak dan dia .. beruang. Haha.

 

Anggap aja ini post apresiasi buat Pak Bear, ya. Sayang banget soalnya sama dia.

 

Setiap masuk ke kamar terus ngeliat Pak Bear geletak di kasur, rasanya pengen banget meluk. Dia memang mengundang pelukan.

 

Senyumnya itu seakan bilang “Sini, Sa. Cerita, saya gak akan marah.”

Dan berakhirlah gue nangis sambil meluk Pak Bear. Boneka beruang paling ajaib.

 

Setiap ngeliat senyumnya pun gue selalu keingetan banyak hal, tapi dia tuh bisa bilang “Semua bakal baik-baik aja” lewat senyumnya itu.

 

Gue suka ngeliat wajahnya walau sebenernya gue lebih seneng tenggelam di ceruk lehernya. Atau di topinya, haha. Terus dagu gue bertumpu di hidungnya.

 

Yang lain mah punggung sandar-able, dia mah hidung. Ajaib memang.

 

Gue bersyukur banget bisa nemu dia pas beres-beres gudang. Pak Bear ada udah lama, cuma karena terlantar ya dia masuk gudang. Pas nemu, gue langsung klaim Pak Bear, kembarannya, dan 1 boneka monyet.

 

Dari awal ngeliat udah jatuh cinta.

 

Gue mulai ngerasa gak waras karena suka sama boneka.

 

Di sisi lain, sekarang gue ngerti kenapa banyak orang yang suka boneka sampai punya boneka kesayangan.

 

Mereka mau jadi tempat sampah tanpa marah atau komentar, tapi kita tetep ngerasa didengar.

 

Salam,

 

K, yang lagi nelangsa.

[1] Waktu dan Memori

Malam ini, aku merasa orientasi waktuku agak berantakan. Ingatanku lompat-lompat entah gimana, aku juga gak ngerti. Sumpah, aku gak ngerti. Padahal aku gak ngerasa ada satupun waktuku yang hilang.

 

Awalnya gini, mamaku tuh pamit. Mau transfer2, katanya. Yaudah kan ya, aku ngendog di depan karena waktu itu gak ada siapa-siapa lagi, cuma aku sama si Wooram. Nah, aku teh nunggu sambil download dan apdet2 aplikasi di Shiro karena si kurkur batrenya sudah hopeless dan harus segera diservis. Gak lama tuh, adekku dateng satu. Biasalah dia mah dateng ngemil-ngemil, da aku juga gitu. 1 jam kemudian adekku yang satu lagi dateng. Dia langsung ganti baju silatnya ke baju biasa, terus ngetuk kamar depan. Kataku teh, “Gak ada, mamah mah pergi.” Itu masih dengan ingatanku kalau orang tuaku pergi transfer.

 

Beberapa menit kemudian, aku heran kan. Lah kok nransfer lama amat, sekalian belanja apa gimana? Terus, datanglah keanehan. Aku denger suara bapakku dari dapur, jalan ke kamar tengah. YA ALLAH. Di situ tuh aku mikir “hah? udah pulang? kok perasaan belum.”

 

Terus teh aku biasa aja kan, da dikirain salah denger biasa. Aku basa basi deh ke adek “eh iya, besok ke sekolah?” gitu. ngobrol cuma gitu aja.

 

udah kan, saat itu downloadanku selesai (kecuali update cytus sih, sedih aku). Aku teh ngecas akhirnya di meja panjang tempat biasa pada ngecas. Puncak keheranan gue di sini kayaknya. Aku ngeliat hape bapak di situ, aku pun heran,”Lah, hape bapak di sini? Katanya mau transfer?” (karena biasanya bapakku nyimpen norek di hape). Aku loading kan di situ. Terus ngeliat kunci motor. ADA GAES. Terus aku nengok motor lewat jendela. ADA GAES.

 

JADI TADI TUH SEMUA ORANG ADA DI RUMAH DAN GUE GAK SENDIRIAN!

 

Gue bingung kan. Perasaan tadi nransfer, kapan baliknya? Kok gue gatau? Kok gue bego banget? Untung tadi gue cuma puter lagunya TVXQ di speaker, suaranya kecil pun. Gak aneh-aneh. Gila, horror banget.

 

dengan nada merasa bego, aku pun bilang, “eh? eh iya ya, kan udah pulang.”

 

PADAHAL GUE MASIH GA NGERTI KOK BISA SIIIIIHHHHHHH

 

Terus gue buruburu ke kamar. Gue mikir. Kapan pulangnya? Kapan? Perasaan gue nongkrong di depan kok, bukain pintu sama kunci juga.

 

Satu ingatan pun muncul di otak

“Teh, itu ada yang nyegat nasi goreng tek tek geura.”

 

Pas itu orangtuaku habis dari luar entah dari mana, diingatanku sih habis pulang dari supermarket beli makanan kucing. Aku waktu itu baru nyari si Wooram ke belakang, dan emang wangi banget gaes. “iya ih mah meni seungit.” kata aku teh.

 

“itu si A nyegat di depan. mau teh?”

 

“yeuh, engke karunya atuh tukang nasi goreng nu payun. tersaingi ku tektek.”

 

Satu ingatan muncul lagi. Pas sore. Mamaku bilang mau beli makanan kucing, alasan kenapa aku ga jadi ke tempat servis kurkur karena motor keburu dipake.

 

Deg!

 

Sebuah kesadaran muncul.

 

Jadi, mama beli makanan Wooram tuh pas sore. Pas mama ngomongin nasgor tektek itu … pulang nransfer?

 

Wait. Jadi pas aku bukain pintu, nongkrong di depan, bilang ke adek mamahnya gak ada, itu tuh mamah udah pulang? Ada di kamar?

 

……..kok, ingatanku jadi kacau balau gini sih?

 

kok bisa?

aku kenapa?

 

atau karena akunya emang gak merhatiin? tapi aku merhatiin ah. aku ngobrol loh waktu itu, aku tau nasgor tektek, nyium juga gimana wanginya.

 

tapi kenapa ingatanku soal itu tiba-tiba semacam overlap? eh, atau ilang?

 

sampai pas nulis ini, aku masih gak tau kenapa. ingatanku juga kayak…gimana ya. di kepalaku tuh kayak ada yang kosong tapi gatau apa.

 

dan aku buru-buru nulis di sini sebagai pengingat,

kalau aku tuh pernah begini.

 

soalnya, aku ngerasa, sekali kejadian, aku bakal ngalamin lagi.

 

 

salam,

 

k.

[Review] Kusuriya no Hitorigoto

IMG_6555.JPGAku lagi gila banget sama satu serial ini. Ah, aku selalu gila sama banyak hal sih? apalagi menyangkut bishie rambut sampo. Rasanya greget pengen njambak gitu HAHA, gak deng mas. Aku jinak, kok.

 

Kusuriya no Hitorigoto awalnya WebNovel (semacam wattpad/fictionpress gitu) karya Natsu Hyuuga yang dirilis di syosetu. Sekarang udah ada versi Light Novel dan Manga.

Sejujurnya, aku tau manga-nya duluan. LANGSUNG DEMEN HAHAHAHA. Kalau suka sama heroine-nya, rasa suka lebih awet ya haha. Terus kan yang bikin fantrans manga nyelipin link baca webnovel versi translasinya, cuss aku baca.

 

AKU LEBIH DEMEN LAGI!

 

DEMI APA SETIAP TOKOHNYA BIKIN GREGET HAHAHA.

 

okay syip, mari kita serius.

 

Kusuriya no Hitorigoto, berlatar China Kuno, bercerita tentang gadis apoteker yang diculik, terus dijual buat jadi pelayan di Inner Palace. Namanya Maomao. Dia sengaja nyembunyiin kemampuan otaknya agar tetap dapat bayaran rendah karena penculiknya dapat 20% dari pendapatannya. Dia ga rela si penculik dapat uang besar.

 

Kehidupan Maomao yang dikira bakal mulus aja sampai dia pulang dua tahun lagi, langsung jungkir balik ((gak gini juga sih, Maomao mah selow orangnya)) waktu dia berurusan sama seorang eunuch berwajah dewi kahyangan bernama Jinshi.

 

Jadi, di Inner Palace ini, tempat selir-selir raja. Termasuk yang nanti bakal naik tahta setelah jadi istri sah. Jadi istri sah kalau bisa melahirkan anak laki-laki ((SEDIH AKU, SEDIH)). Semua staff di sana perempuan. Dan eunuch. Laki-laki yang udah gak punya … itu lah. Smooth and Flat, kalau kata Maomao. Flat is justice soalnya. Di tengah krisis cowok ini, ada yang bening dikit cewek-cewek tuh langsung heboh, biasa lah ya. Eunuch juga habek weh.

 

TERMASUK SI JINSHI!

 

Senyumnya bak dewi kahyangan, menggegerkan batin kaum hawa dan kaum adam sekaligus!

 

…yang selalu Maomao tatap kayak serangga, haha. Maomao kesel aja ada cowok secantik dia. Eunuch di usia muda, pula. Waktu itu usia official-nya 24 tahun.

 

Kebayang gimana hubungan antara Mad Scientist Maomao dengan Celestial Maiden Jinshi? HAHAHA.

 

Genre cerita ini Shounen, walau gak kupungkiri penulis juga nyempilin romance yang bikin gregetan. Gimana gak gregetan kalau yang satunya gak (mau) peka dan yang satunya rada maso tapi kode terus?

 

YAK. JINSHI SEMASO DAN SEMANIAK ITU SAMA MAOMAO HAHAHA.

 

Jalan cerita dan penokohan sejauh ini bagus. Penulisnya semakin berkembang. Tiap chapter ada kemajuan kualitas, di tiap versi ada kemajuan juga. Setiap karakter juga ada perkembangannya.

 

Bicara versi, kayaknya lebih enak baca ketiganya, haha. Di tiap versi ada sesuatu yang berbeda dan punya nilai plus masing-masing. Penulisnya sih pernah bilang di twitter, versi WebNovel itu normal end, versi Light Novel itu Good End. Manga ngikut LN, berarti kemungkinan Good End juga dengan beberapa dramatisasi komikal.

 

yah… mereka belum ending, sih.

 

Aku sendiri baru baca versi terjemahan webnovel sampai Volume 3. Volume 4 itu topiknya beda lagi, semacam next season, jadi kutunggu tamat dulu haha. Sampai segitu pun aku udah rada puas sama endingnya.

 

Yah…. okay. Ganbare, translator-san!

Saatnya berbagi link!

WebNovel (JP) : https://ncode.syosetu.com/n9636x/

WebNovel (Fantrans-ENG) : https://fantasy-books.live/index/kusuriya-no-hitorigoto/

Light Novel (Fantrans-ENG-Snippets only) : shikkarito.wordpress.com di situ ada beberapa terjemahan dan spoiler perbedaan antara WN dan LN. Gak semua sih, tapi ya…bersyukur ya.

Manga (RAW JP) : http://lhscans.com/manga-kusuriya-no-hitorigoto-raw.html

Manga (ENG) : https://mangarock.com/manga/mrs-serie-100099632

 

Manga sekarang baru mulai arc kanzashi. Arc yang setelah Garden Party. Kali aja mau lanjut baca. Kusaranin baca dari awal aja sih karena rasanya beda.

WebNovel sendiri transnya lagi arc anak-anak serangga. Pokoknya, misteri awal-awal cerita udah clear dengan sedikit drama.

Karena ratingnya R15, pastikan kalian cukup umur, haha.

 

ada beberapa adegan yang

 

um,

 

“smooth and flat”.

 

HAHAHAHAHAHA.

 

Aku sebenarnya mau nambahin banyak fangirls reaction ((woy)) tapi khawatir banyak spoiler muncul. Di atas aja udah ada spoiler kayaknya.

 

In extremely short summary, this series is a shift between

“Poor Jinshi”

to

“Ganbare, Jinshi-sama”

 

Karena dia karakter piwatireun.

 

poor male lead.

 

and it seems the author really love to bully him.

 

sayangilah Ji

en ever

BRAK!

Fathi membanting pintu ruang rapat hingga menimbulkan kegaduhan. Orang mulai berbisik mengenai dia yang tempramen, tidak tau sopan santun, atau bahkan terang-terangan menggodanya dengan kalimat-kalimat gaul yang memuakan.

Gadis itu berusaha menulikan telinganya. Tangannya terkepal erat, hingga perlahan ia menggenggam pergelangan kirinya, mengusapnya lembut sebelum menghujamkan kukunya yang panjang. Beberapa kali ia coba berhitung dengan menyesuaikan napasnya, mencoba tenang agar tekanan darahnya tidak melunjak. Dengusannya menyela. Ia mengulum bibir, menahan kelopak mata. Gadis itu berusaha agar tangis dan emosinya meledak lebih dari ini. Ya Tuhan, kok susah sih?!

“Fathi,” Aru menyentuh pundak Fathi. Gadis itu langsung menepisnya. “Let’s talk, okay?” bujuknya.

Fathi tetap diam. Otaknya masih terlalu sibuk untuk sekeddar memberi perintah yang seerhana tapi pasti. Ia tidak akan bisa mengontrol suaranya jika bicara sekarang. Aru pasti akan kaget jika ia bentak dan itu tidak baik bagi kesehatan jantungnya. Bagaimana kalau setelah ia kelepasan, kondisi Aru malah memburuk? Ia pasti akan merasa bersalah seumur hidup.

Namun, Aru masih gigih membujuk Fathi. “Fathi, kita pulang aja ya? Istirahat, dinginkan kepalamu, oke?”

Fathi sempat menatapnya tajam sebelum mengangguk. Aru tersenyum lega. “Ke parkiran, yuk. Barangmu gak ada yang ketinggalan, kan?”

Gadis itu berjalan cepat mendahului Aru. Ia tidak hiraukan orang yang protes karena seenaknya memotong jalan, menyalip, atau menyenggol mereka. Pikirannya dihujani berbagai macam hujatan dan spekulasi yang membuatnya frustasi. Belum lagi, bayangan dan suara kekecewaan orang-orang, Aru, dan yang lain menghantui dirinya.

Di belakang, Aru menatap punggung itu dengan tatapan gamang. Antara marah dan rasa bersalah.

 

***

“Assalamu’alaikum!”

Aru mengucapkan salam sekaligus mewakilkan Fathi yang masuk begitu saja tanpa mengucap apapun. Mbak Ta bingung karena tiba-tiba diabaikan Fathi yang biasanya selalu menyapa dan minta cemilan.

“Mas, itu si Eneng kenapa?”

“Lagi gak enak hati aja, Mbak. Maafin, ya.” Aru tersenyum tipis. “Saya nyusulin dulu.”

“Ikut, Mas.”

Aru dan Mbak Ta segera mengikuti langkah cepat Fathi menaiki tangga. Aru melebarkan matanya dan mempercepat langkah ketika Fathi membuka pintu dengan gantungan kucing di depannya. “Fathi! Kamu-”

“-salah kamar.”

Terlambat. Pintu dengan gantungan kucing itu sudah tertutup kembali. Pintu dengan gantungan kucing bertuliskan “Kamar Nara”.

***

Fathi menghempaskan tubuhnya tanpa melihat sekeliling. Ia segera mengambil selimut, lalu meringkuk seperti bayi. Jemari kanannya masih mencakar tangan kirinya berulang kali, berharap ada satu cakaran yang membuahkan hasil agar ia dapat mengalihkan perhatiannya. Nihil. Kulitnya masih mulus.

Ia menggeram frustasi, kemudian memukul sendiri kepalanya kesal. “Fathi bego, Fathi bego! Kenapa bisa kelepasan di ruang rapat? Payah, kamu. Payah!” racaunya pelan dengan suara tertahan. Ia masih harus menahan suaranya karena ini bukan rumahnya. Ia hanya menumpang. Tangan kanannya terus memukul hingga pandangannya terasa sedikit berkunang, menimbulkan sensasi mual yang sulit ia tahan.

“Hoek!”

“Jangan muntah di kasur saya.”

Suara berat itu membawa balik kewarasan Fathi. Gadis itu menatap horror penampakan manusia di sampingnya yang juga memeluk selimut. Wajah bantal penampakan itu semakin menambah sensasi horror yang dirasakan.

“Kak Ara!”

 

***

Sekarang, ia duduk berhadapan dengan Nara, persis terdakwa yang disidang. Hakim Narayan Anggara menatapnya tajam penuh kecurigaan. “Kenapa kamu seenaknya masuk kamar saya, tiduran di kasur, rebut selimut, nangis, menyiksa diri, juga memaki diri sendiri?”

Gadis itu menunduk, menghindari tatapan pria di hadapannya. “Maaf, Kak…,” gumamnya pelan.

“Ah, ya, maafmu gak buat capek saya hilang, tapi seenggaknya kamu sadar, kan?” Ara menghela napas super lelah. “Kamu balik ke kamar sendiri, deh. Tidur yang tenang.”

 

 

 

 

“Ah, Fathya. Kamu harus cari hal lain buat ngalihin pikiran kamu. Temui Dokter Rama sesuai rekomendasi Aru. Itu rekomendasi dari ayah dan saya juga, kok. Kamu masih punya kelebihan yang bisa dipuji, makanya saya percaya sama kamu.”

***

“Maaf, Kak Ara. Fathi gak yakin bisa ngontrol emosi kalau biara soal Aru atau apapun yang berhubungan sama dia. Maaf, sudah mengeewakan.

 

[tbc]

 

Akhirnya kebuat juga drabble yang isinya Aru.