FN : Something Strange

Aircraft : Boeing 777-300ER -Economy Class.

Route : CGK-AMS

 

“Dan?”

Danang menoleh. Pria itu menatap heran perempuan di sampingnya. Postur Aidan terlihat waspada. Ia bahkan menyembunyikan kepalan tangannya di bawah selimut agar tidak mengundang perhatian orang lain. “Kamu kenapa, Ai?”

Mata Aidan bergerak. Ia seakan mencari mangsa dalam tubuh besar burung besi ini. Ia pun menahan napasnya, seakan sedang mengintai.

“Kamu ngerasa gak, Dan? Ada yang aneh di sini,” gumam Aidan pelan, sedikit berbisik agar tidak terdengar orang di belakangnya. “Kayaknya aku harus hapalin aturan keselamatan dan bukain pintu emergency.”

Danang menatap pintu emergency di dekat mereka dengan alis terangkat. “Maksudmu, kita bakal jatuh?”

Aidan menggeleng. “Bukan juga, sih. Tapi instingku ya, kayaknya bakal ada sesuatu. Sesuatu yang mungkin setara seramnya dengan jatuh.”

Danang tidak membalas lagi. Ia mengalihkan pandangan pada jendela di pinggir Aidan. Di luar benar-benar gelap. Sepertinya mereka ada di atas lautan luas.

“Dan, kalau kamu liat ada yang aneh, kasih tau aku, ya.”

Amannya, Danang mengangguk.

[]

 

Saya bikin snippets iseng aja sih. Untuk Flight Number ini, saya pengen bangun suasana kabin dulu, membangun peran para pendukung terutama karakter utama yang masih dikekepin.

Siapa tau berguna saat Flight Number mau dibangun dari awal seperti seharusnya, kan?

Iklan

Replies #1

Kepada : Orang yang Mengaku Adik

Dari : Orang yang Katanya Kakak

Hei, jangan memukul kepalamu. Nanti otakmu bergeser. Aku cukup ceroboh untuk kepentok palang otomatis, jadi aku tidak mau memukul kepalaku.

Er[.]

•••cupboard’s treasure•••

てがみ #2

Untuk : Kakakku yang Tampan

Hai Kak! Episode untuk musim ini tinggal sisa 10, mengingat aku ambil banyak seri sekarang. Musim depan aku ambil peran banyak atau tidak ya? Rasanya ingin beristirahat, tapi aku tidak bisa menjamin ratingnya jika hanya berpegang pada satu seri.

Apa kakak percaya pada peruntungan?

Adikmu,

AE.

Senpai, daijobu?

Aku memegang tongkat dengan tangan gemetar. Tatapan sang pelempar bola malah membuatku semakin gugup. Sungguh, ini adalah kali pertamaku memukul bola. Sebelumnya mana pernah aku sudi untuk ikut permainan seperti ini. 

Pelempar bola memberikan aba-aba. Aku bisa mendengar kumpulan musuhku terkekeh geli. Sialan sekali. Mungkin kalian belum pernah mendengar kata “jenius”? Mari kuperdengarkan! 

“Zero!” 

Bola meluncur setelah seruan kencang pelempar bola. Aku berusaha konsentrasi pada satu titik, tapi oh kenapa bolanya sangat kencang? Mataku mulai berkunang dan kehilangan fokus. Takut kehilangan kesempatan, aku mengayun tongkat sekuat tenaga–

BRUK!

Badanku jatuh ke pelukan bumi sekencang-kencangnya. Apa ini? Kenapa dunia begitu jahat?

Di tengah menurunnya kesadaranku, aku melihat wajah Minami-senpai yang seperti malaikat–dengan kening yang memar. Ia menepuk pipiku berkali-kali, bertanya apa aku baik-baik saja.

Apa aku sudah mati, sampai-sampai membayangkan ketampanan Minami-senpai ternoda oleh benjol nista surgawi?

•••

“Matsuoka-san! Matsuoka-san!” Minami dengan tanggap menggendong Rin Matsuoka yang terjatuh dan membawanya ke ruang kesehatan.

“Senpai, biar aku saja. Dahimu–”

Minami tersenyum. “Tidak apa-apa, sekalian saja.”

Setelah Minami pergi, anak gadis berkumpul dan berbisik kencang. “Hei, Minami-senpai itu sangat keren ya! Bahkan memar saja terlihat seksi di dahinya!”

“Ehem!” Anak laki-laki yang sebal menatap mereka tajam. Aura hitam menguar dari tubuh mereka.

“Yah, jadi tampan itu memang sulit sih ya, hahaha!” cuitan anak gadis tersebut malah membuat mereka semakin geram.

•••

“Urgh… AW!”

Setelah menggeliat, rasa sakit menjalar dari punggung dan bokongku. Argh, sial. Aku lupa kalau tadi aku jatuh dengan indahnya.

“Oh, kau sudah bangun?”

Mendengar suara yang sangat familiar, aku mencoba duduk. Mataku membulat ketika tau bahwa itu bukan ilusi. “Mi-minami-senpai! A-aku–”

Minami-senpai tersenyum manis. “Kau tidak apa-apa, kan?”

Ditatap seperti itu, aku mengalihkan pandanganku. Tak sengaja, aku melihat dahinya. Aku segera menunduk. “Maafkan aku, senpai…”

“Kenapa?” Saat mengangkat sebelah alisnya, ia pun menyadari. “Oh ini. Tidak apa-apa kok. Jangan khawatir, aku baik-baik saja.”

“Ta-tapi senpai….”

“Tidak apa-apa.” Minami-senpai mengacak rambutku, membuat wajahku memerah.

“Terima kasih,”
Jantungku berdetak kencang. Aku terus menunduk, tidak berani menampakkan wajahku yang merah seperti kepiting rebus.
Ah senpai, jangan membuatku jatuh lebih dalam untukmu!
[END]

•kurokuro, 26 Oktober 2016, 16.00•

Copyright (c) 2016. KAZE Kurumi. Senpai, daijobu?

•••

Ini … apa ya? Pokoknya, tulisan ini supposed to be romantic-comedy, tapi aku akui ngawur kebangetan. Bikinnya cuma beberapa menit dengan pikiran seadanya, idenya juga mendadak.

Ini semua karena seorang senpai (she’s a girl) menceritakan pengalamannya bermain softball. Dia akhirnya bikin cerpen then I also kind of inspired, jadilah coretan ini. Support her on Wattpad, ok!

Regards,

Kuro.

Dua Waktu

Aku manusia dua waktu

Kuharap aku tak perlu tidur

Siang hari memuaskan orang lain

Malam hari menghibur diri sendiri

Aku manusia dua waktu

Kuharap aku tak perlu tidur

Namun, saat ini ingin hanyalah angan

Aku yang egois lah yang menang

[END]

•kurokuro, 26 Oktober 2016, 23.35•

Copyright (c) 2016. KAZE Kurumi. Dua Waktu.

Ps. Kata Om Rhoma Irama, jangan begadang kalau tiada artinya.