The Liebster Award 2016

Awarding, yeay!

To tell the truth, aku agak sangsi ikut ajang kayak gini karena aku berencana untuk tetap tersembunyi hahaha. Terima kasih pada Kak Shelly yang sudah menominasiku, haha. Suatu kehormatan bagiku, jadi aku gak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, yeay! Siapa tau keteu teman blogger yang sama wibu-nya, pfffttt :3

“Sekali tepuk dua nyamuk” – Kuro

Ngomong-ngomong, aku baru tau kalau di dunia blog ada ajang kayak gini //kudet//. Bisa dibilang, blog ini jadi saksi bisu kelabilanku dari tahun ke tahun, dari waktu ke waktu, bisa ditebak dari nama samaran yang ganti-ganti HAHAHA. Tadinya mau sok keren, tapi jadi serasa norak sendiri 😁 Lah, kok jadi curhat 😌

Sekilas tentang Kakak Shelly yang menceburkanku ke ajang ini, blognya terkenal akan gombalnya, HAHAHA. Seriously, you’re the “pick-up lines” lady 😎 Ia juga penulis dan jujur aku suka tulisannya. Dinar mana woy Dinar //salahsasaran// //tagihandadakan// Kalian bisa baca karya, review, dan gombalannya di sini : Jingga dalam Pelangi.

KEMBALI KE THE LIEBSTER AWARDS 2016! Continue reading “The Liebster Award 2016”

Broken Picture

Tears are overflowing

Hands are trembling

Acts were cutting

Lips are swearing

How stupid I am

Now,

The picture has broken.

•kurokuro, 23 Mei 2016 22:10•

Copyright (c) KAZE Kurumi, 2016. Broken Picture.

Please kindly link to this site for sharing or reposting.

A little talk about this “Broken Picture”, actually there isn’t a picture at all.

And, pardon my bad english xoxo :3

(K)NIGHT

To night

Tonight

To knight

I’ll be the night

And you’re the knight

Who will reveal his heart at night

So I’m Night.

Then Knight sees the shining stars.

He admires stars,

Then allways wait for Night

To see the stars.

For Stars’ sake.

•kurokuro, 23 Mei 2016 20:58•

Copyright (c) KAZE Kurumi, 2016. (K)NIGHT.

Don’t repost, please kindly link to this site instead.

PS. Pardon my bad english xoxo :3

Musiman | OA LINE

Kita masuk ke serial “Musiman”. Serial ini membahas segala musim, musim duren, musim hujan, musim rambutan, musim banjir, musim baper–eh. Termasuk musim patah hati ditinggal idol nikah tapi kenapa dia makin ganteng pas udah nikah (>人<;) #plak

Aku kurang tau asal muasal term “Musiman” ini, tetapi yang kumaksud di sini orang-orang yang ikut-ikutan dan terlalu berlebihan, cenderung alay (re: anak lebay) malah.

Akan kubahas mengenai OA (Official Account) di Line yang dapat dibuat dengan mudah melalui Line@.

Kurasa manusia musiman ini harus berhenti berlebihan dan lebih serius. Lebih produktif juga maksudnya (produktif dalam konten, bukan promote ya).

Banyak Promote yang muncul dari akun (menurut saya mereka serius) isinya akun-akun musiman yang namanya makin aneh dari hari ke hari. 

Selain namanya yang aneh, pesan di promote juga aneh (banyak dosa penggunaan istilah, kalau dia serius kurasa enggak akan begini). Kontennya pun kurang orisinil, kau tau lah maksudku. Itu-itu saja, tidak ada yang “wah”.

Jika dulu zamannya pesbuk, sekarang zamannya lain (re: line). 

90% kebohongan itu “Add dia, ada sesuatu di pesan pembuka” demi ningkatin adders.

Kalau nyari adders dengan cara yang baik dan meningkatkan kualitas, sob.

Bukannya aku nge-judge OA (Official Account) baru, enggak kok. Kalau isinya bagus aku juga bakal add mereka. Terbukti ada OA baru yang sekarang berjaya karena kontennya memang bagus.

Akan tetapi, eksistensi mereka masih kalah dengan OA tidak bermutu. Olshop-olshop musiman yang mempromosikan “bisnis baru 2016, seminggu dapat 10jt”, akun hobi yang menjamur (padahal isi kontennya kurang bermutu dan kurang orisinil), dan yang paling gemas adalah…

OA galau yang entah kenapa makin menjamur.
Musiman banget ya. Dulu di twitter musim banget yang gini, jamannya Line musimnya begini.

Jika memang ingin membuat OA, mantapkan dalam hati niat kalian, tegaskan tujuan kalian, buat konten yang kreatif dan orisinil, juga “berisi”.

Serius, sob.

Jangan membiasakan diri jadi yang “musiman”, itu tandanya kalian terbawa arus.

Mulailah memikirkan semua ini dengan serius. Jika memang maksudmu untuk bersenang-senang, bersenang-senanglah dengan serius.

.
Salam,
Kei yang selalu kebanjiran notif dari OA.

[related post: Instagram | profshafira]

Kangen dia.

Bukan cerita lama kalau aku ini stalker. Siapa pun aku stalk. Cosplayer, artis, model, komikus, novelis, tokoh kesukaanku (kurosemeuhuk), bahkan orang terdekatku pun aku stalk demi kenyamanan pribadi (aku parnoan //hiks).

Kurang satu lagi. Diri sendiri.
Ya, aku sering stalk diri sendiri. Mulai dari twitter, blog, facebook, instagram, path, dan media lain yang aku punya.

Aku merasakan perbedaan timeline yang sangat besar, lalu rasa rindu itu muncul. Ya, muncul.
Aku kangen Sasa. Banget. Namun, aku tidak tau dia pergi ke mana.

Aku kangen Sasa yang percaya diri bisa melakukan apa pun karena dirinya selalu benar.

Aku kangen Sasa yang bisa nanggapin jokes (walau gak lucu sih) dengan seenaknya (selama ga keterlaluan).

Aku kangen Sasa yang bisa membuang emosinya.

Aku kangen kamu, Sa. Kamu dan dunia di sekelilingmu.
Kenapa aku jadi emosional gini sih?
Aku kangen Sasa yang langsung melek ngeliat angka.
Ya ampun Sa, tanpa kamu aku mah apa atuh, cuma remah-remah ciki yang gak sehat karena bermecin tinggi.

Aku memang bukan apa-apa tanpa Sasa.

Lihatlah.

Aku, bukan apa-apa.
Maafkan aku yang dulu mengesampingkanmu, Sa.

Aku kangen.

Kamu…balik dong.
Yang merindukanmu,
Kei.
[related post : Instagram | profshafira]

Nenek Angkot

Tadi, waktu naik angkot, sudah ada nenek-nenek yang naik angkot seorang diri.

Sepertinya beliau terbiasa dengan anak-anak, karena saat adikku kepeleset, beliau menasehati panjang lebar kalau kita harus hati-hati.
Nenek itu mengajak ngobrol. Bertanya habis dari mana.

Dari Bandung. Jawab ibuku.

Oh, di Bandung ada apa saja? Tanyanya lagi.

Di Bandung habis dari rumah saudara. Jawab ibuku.

Setelah itu, ibuku bertanya ibu habis dari mana?

Nenek itu menjawab, habis dari gereja. Dari pagi, baru pulang sekarang.

Obrolan berlanjut mengenai rumah.

Rumah saya di Kompas, di Jalan XX, ujar nenek itu.

Oh, rumah saya juga di Kompas. Saya di depan, persis depan masjid. Timpal ibuku.

Wah, berarti kita tetangga ya!
Sumpah, aku baru tau kalau nenek itu tetanggaku, haha. Kudet amat.

Aku mendengarkan percakapan itu dan memerhatikan nenek itu dengan seksama. Awalnya, aku berpikir nenek itu sama saja dengan tipikal nenek-nenek yang cerewet dan merepotkan.

Namun, sesampainya di rumah, pandanganku berubah.

Setelah pamitan (nenek itu turun duluan), nenek itu berpesan: lain kali mampir, ya!

Aku turun beberapa meter kemudian. 

Aku mulai memikirkan semuanya, termasuk nenek tadi. Nenek tadi, Nenek Maria namanya. Ia wanita yang kuat. Tidak bergantung pada anak atau kerabat, ia pergi sendiri pagi-pagi sekali. Naik angkot.

Bukan rahasia lagi kalau angkot bekasi jauh dari kata nyaman. Ngetem terus, panas, macet, banyak debu dan polusi, suka mogok, bahkan beberapa supirnya “bandel”. Aku saja sudah pengap dengan karbon monoksida sepanjang perjalanan.

Selain pergi pakai angkot, beliau juga pulang pakai angkot. Menuggu dengan sabar angkot 39B yang kalau ngetem di terminal bisa sampe setengah jam. Beruntung aku membawa pasukan, jadi angkot segera berangkat.

Saat itu, waktu sudah menunjukan waktu isya.

Ingat, dia pergi bukan untuk jalan-jalan, belanja, atau nonton di bioskop lho. Dia pergi untuk ibadah.

Kalau anak muda, anak muda mana yang jaman sekarang mau pakai angkot ke sekolah? Sekolahnya dekat saja kadang malas, apalagi yang sekolahnya jauh.

Oke lah, aku gak nge-judge. Setiap orang kan punya kondisinya masing-masing, repot juga kalau rumahnya terlalu jauh dari jalur angkot. Aku juga pernah merasakan ini soalnya.

Namun, perlu jadi renungan juga. Jika Nenek Maria saja bisa, mengapa kita yang masih muda tidak tergugah?

Sekali-kali, cobalah angkutan umum (walau menyebalkan). Jangan terlalu bergantung pada kendaraan pribadi.
Salam,
Kei, a lazy brat.

Pejalan Kaki Unyu-unyu

Bismillahirrahmaanirrahiim….

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh…

Sebenarnya ini cuma curhatan akan kaki gue yang pegel-pegel dan hati gue yang deg-degan ga keruan waktu perjalanan pulang sekolah tadi. Ya sebenarnya ingin memberi kritik dan saran juga, semoga aja ga dikacangin *eh._.

Begi ceritanya. Pada sore ini, sekitar pukul 16.30 WIB, seorang murid esema bernama ***** (nama yang tersamarkan) pulang bersama teman baiknya menyusuri rumah-rumah sambil berbincang. Kadang penting kadang engga, kadang gila kadang waras, kadang lucu kadang garing. Seperti biasa. Gua sebagai orang yang ramah lingkungan *eak* memang terbiasa pulang dengan jalan kaki atau naik angkutan umum (re: angkot) untuk pulang. Dan darisini lah muncul curhatan gue~

Ceritanya, kita udah mau keluar gerbang sekolah nih. Bayangkan ya pemirsa, kalau jam pulang itu, gerbang sekolah udah kaya apaan tau. Ngeri gua banyak motor hilir mudik udah kek mau demo kenaikan bbm. Parkiran penuh, jalan ke blokir, begitu pula gerbang yang terlihat….mengerikan bagi gua. Semales dan sebenci-bencinya gue sekolah, gue masih mau melanjutkan hidup sebagai pelajar dan lulus esema, bukan malah tragis ketabrak motor. Sering kali gua terkaget-kaget karna tiba-tiba disebelah gue ada motor lewat, diklaksonin, atau gue terjebak motor dan gatau mau gerak ke mana. Saat itulah gue bingung dan muncul pertanyaan dalam benak gue, “Dimanakah keadilan bagi pejalan kaki yang unyu-unyu ini?” Setidaknya, adakanlah jalur khusus pejalan kaki… (Ini sih saran saya) saya memberi saran saja sih, agar suatu saat tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Ingat loh, jalan di sekolah dan di depan sekolah itu udah sempit, yang lewat bukan cuma motor, tapi juga mobil. Mereka bukan cuma sekedar lewat tapi juga parkir. Saya hanya kasian pada pejalan kaki yang unyu itu. Dan kalau boleh saran lagi nih sama pak RT, “Pak, tolong beri papan peringatan agar kecepatan motor dibatasi. Banyak anak kecil unyu dan itu masih komplek perumahan pak :)”

Setelah gue dan temen gue melewati gerbang sekolah, kita jalan dengan santai. Well, jalan perumahan itu memang tergolong sepi jika tidak ada anak rese yang membuatnya rusuh. Apalagi, sekarang udah di cor. Hahaha makin bisa kebut-kebutan dong *eh._. Intinya, kita melewati jalan ini dengan aman dan nyaman.

Setelah itu, kita menyebrang. Salah satu hal yang paling gue takutin kalo sendirian. Bayangin aja, bareng le*li aja gue masih suka ketakutan, apalagi sendirian. Kadang juga di ujung gang suka ada angkot yang ngetem (ngetem: angkot berhenti sejenak untuk menjemput penumpang), atau ada motor mau lewat. Kan tambah rusuh ya._. Tapi, Alhamdulillah. Kita berdua selamat dan sehat wal’afiat.

Setelah nyebrang, kita berpisah. Dadaaaah temen gila gueee :”) sampai di rumah dengan selamat ya kamuuu :”) well, rumah gue ama dia emang ga searah, gue belok kanan terus lurus sedangkan dia lurus terus belok kiri :”) kalian tau? Gue pulang sekitar jam 5 sore, itu adalah jam paling krusial dalam sejarah anak sekolah, kantoran, dan rel kereta. Dimana mereka berlomba-lomba untuk sampai pada tujuannya masing-masing secepat mungkin. Dan gue apal banget angkot jam segitu tuh gausah diharepin, php semua brooooooh 😦 lu tau? Gue ampe nunggu sekitar setengah jam cuma buat nunggu angkot doang, oh my God :” daripada gue nunggu, mending gue jalan aja kerumah kan?

Jalan kerumah mempunyai sisi positif dan negatif. Positif dari sisi jasmani dan finansial. Bayangkan, klo naek angkot, gue butuh uang 2000 rupiah untuk jarak sedekat itu. Lumayan tuh klo seminggu gue jalan, gue dapet 10000.

Negatif dari sisi rohani gue, karena jantung gue pasti deg-degan gak keruan. Bukan karna gue ngeliat cowo kece atau gebetan, tapi karna gue melihat BETAPA RAMENYA JALANAN PADA JAM LIMA SORE. Lu tau sendiri kan begimana Indonesia? KAGAK ADA TROROAR! Sumpah gue muak banget ama ini. Kenapa? Karena gue, sebagai pejalan kaki unyu-unyu merasa ditindas dan dikhianati *lebay iyuh-_-*. “Dimanakah keamanan para pejalan kaki unyu? Adakah penghargaan atas keberanian pejalan kaki unyu dalam menyelamatkan lingkungan dan menyehatkan badan?”

Pertama, gue mencoba untuk jalan. Dari al*fa ampe belokan sih gada masalah, karna bangunan dipinggir memang menyediakan lahan parkir yang cukup besar, sehingga pejalan kaki unyu bisa dengan aman melewatinya. Nah setelah belokan itu….. Gue suka rada emosi dah beneran. Gue udah bilang kan ya klo jalan rame pake BANGET? Nah, udah mah rame, kaga ada tempat layak untuk pejalan kaki unyu, eeeeh malah ada truk gede yang parkir dipinggir jalan dan membuat pejalan kaki unyu terpaksa berjalan ketengah jalan raya. Sumpah, gue takut banget. Gue nungguin deket truk kamvret itu sekitar beberapa menit untuk mengambil timing yang tepat (gue masih pengen idup dan gamau tragis ketabrak), lalu berjalan dengan takut dan mepet ke truk kamvret itu, berjalan cepat layaknya cicak.

Huuuuft….. Selamat gue. Gue pun jalan lagi. Oh no! Tadi truk sekarang mobil bak-_- gue nunggu deket mobil itu rada lama (itu jalan rame banget gila, banyak truk, mobil, dan motor ngebut) sampai akhirnya ada jarak yg rada jauh dari sang motor terakhir ke sang mobil silver. Daaaaan gue pun lewat!

Gue sampai depan pos. Well, itu belokan ke in*doma*rt dan udah lumayan deket ama rumah gue. Itu juga lewat jalan perumahan, jadi rasanya aman bagi pejalan kaki unyu. Gue udah muak lewat jalan raya yang ramenya subhanallah sekali. Belom lagi gue harus melewati gerobak amang sop buah yang tidak berperi-ke-pejalan-kaki-an. Gue rasa, lewat perum adalah solusi yang aman. Gue pun jalan dengan tenang setelah itu (walau sedikit mencium bau tidak sedap)

Kenapa gak dariawal aja gue lewat perum? Well, gue udah pernah nyoba itu dan gue nyasar. Udah nyasar, kaki gue pegel banget, serasa terbang gue pas nyampe rumah. Muternya kejauhan loh, if you want to know. Tapi, saat gue melewati jalan perum yang tenang itu, gue….merenung.

“Gue suka liat di film jepang, mereka berangkat jalan kaki dan mereka aman dan tenang. Trotorar disana bersih, sangat ber-peri-ke-pejalan-kaki-an. Pantas saja rakyatnya banyak yang suka jalan kaki. Andaikan di sini jalannya aman begitu juga, aku rela loh jalan ke sekolah :)”

AHA! Ketemu satu pemecahan masalah akan kemacetan di Indonesia! Macet itu karna banyaknya kendaraan pribadi yang menjamur. Kenapa begitu? Karena orang Indonesia sudah malas jalan kaki/bersepeda untuk bepergian. Kenapa begitu? Karena tidak ada rute yang cukup aman bagi mereka! Coba saja, saat kita jalan kaki ditengah keramaian seperti itu, jujur aku merasa ditindas oleh zaman dan kebisingan.

Aku berpesan kepada siapapun pemimpin dan calon pemimpin nanti, tolong bangunlah trotoar yang memadai dan indah disetiap jalan raya di Indonesia. Agar semua rakyat Indonesia kembali membudayakan berjalan dan hidup sehat. Ingat pak, bu, trotoar itu bukan tempat sampah! Trotoar itu bukan tempat jualan! Trotoar itu adalah keadilan untuk pejalan kaki, dan salah satu upaya kita dalam menjaga lingkungan.

Trotoar itu bukan tempat parkir! Cari sendiri tempat parkir kalau mau :p Troroar bukan pula nyempit-nyempitin jalan! Justru kalian yang seenaknya pake kendaraan bermotor padahal jarak deketlah yang menuh-menuhin jalan! Untuk apa sih kalian naik kendaraan bermotor PRIBADI kalau jarak telatif dekat? Takut telat? Ah, males lo! Kecapean? Ah payah lo!

Nah, untuk siapapun calon presiden dan sejenisnya, para calon pemimpin, calon dokter, calon arsitek, calon insyinyur, calon teknisi, calon ilmuwan, dan semua calon-calon lainnya…. Saya dengan jujur, sangat ingin hal ini teratasi. Sebentar lagi pemilu, siapapun pemimpinnya saya pasrah kepada Allah. Saya hanya ingin masalah ini dan masalah lainnya teratasi.

Dan untuk para pemimpin saat ini, cepatlah realisasikan proker yang kalian kampanye kan itu. Kami butuh bukti, bukan janji! Kami butuh kuping yang beraksi, bukan mulut yang bilang nanti. Saya menulis seperti ini bukan karna saya tak ikhlas jalan kaki, sirik pada yang pakai kendaraan, atau alasan rumit lainnya. Saya hanya ingin memberi kritik dan saran, saya ingin memperjuangkan hak pejalan kaki unyu. Sesungguhnya ini adalah surat cinta rakyat pada pemimpinnya.

Sekian dari saya, mohon maaf bila ada salah kata. Terima kasih sudah membaca dan tidak mengabaikan (bila ada).

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuh…