Time Flies

The sky is awake, so I am awake, so we have to play! -Anna, Frozen.


Aku menatap kalendar dari hari itu. Hari saat aku memutuskan ingin berbuat baik agar kehidupanku bisa membaik di sana, dengan parameter berkurangnya rutukan maupun tulisan depresi di buku catatanku.

Kalender sederhana, memang. Saking sederhananya, aku sampai lupa untuk memajangnya di awal tahun. Saking sederhananya, aku baru sadar hal itu di akhir tahun. Entah ia yang terlalu sederhana atau aku yang bodoh, kedua jawaban sangat terbuka kebenarannya.

Di dalamnya ada banyak gambar anak-anak yang sebenarnya lucu. Khas sekali. Gambarnya tidak pernah berubah dari zaman aku masih tidak tau A Ba Ta Tsa. Isinya pun begitu, kumpulan do’a-do’a harian.

Pertemuanku dengan teteh yang berjualan sepertinya memang sekali itu saja. Entah takdir apa yang membawaku pulang lewat pekarangan belakang masjid saat itu, padahal lewat trotoar biasa lebih dekat.
“Teh, boleh ngobrol sebentar?”

Karena merasa kasihan (ia sudah ditolak oleh orang-orang sibuk di depanku), aku menyempatkan untuk minggir. Toh habis ini destinasiku hanya kosan yang tak lebih dari 5km. Tak lupa mencari sedikit tanah tak berumput agar tidak mengganggu lalu-lalang manusia maupun kehidupan rumput.

“Teteh kuliah di mana?”

Aku ingin menatapnya aneh, tapi sadar itu tidak sopan. Jadi, aku menatapnya biasa saja dengan pikiran “mbak, sehat?” yang untungnya tidak terlontar sama sekali. Masjid ini masih termasuk komplek sebuah kampus yang tepat berada di seberangnya, jadi kurasa agak aneh kalau ada orang bertanya begitu.

Ya walaupun hal itu tidak ditanyakan, sih. Tabu. Apalagi buatku.

Aku mengalihkan pembicaraan dengan caraku yang memang alay tapi setidaknya berguna. “Teteh sendiri gimana? Gimana ceritanya bisa jadi relawan.”

Tepat! Perempuan di hadapanku bercerita panjang lebar mengenai anak-anak yatim dan kurang mampu yang sering ia temui di setiap sudut kota kembang. Miris, memang. Tapi sisi kelam khas metropolis negara berkembang ini sulit diatasi.

Lalu, ia menyodorkan sebuah kalender padaku. “Harga kalendernya sepuluh ribu, donasinya terserah teteh aja.”

Aku merogoh saku sambil meraba berapa yang pas dan ada di kantongku saat itu.

“Terima kasih ya Teh, semoga kulianya lancar.”

Kuaminkan saat itu.

Hal yang membuatku tersenyum pahit saat ini.

Kalender sudah berganti tiga kali sejak aku membali kalender itu, dengan dia yang tidak terpakai. Yah, paling tidak kontennya bisa dijadikan mading oleh adikku.

Apa yang kusadari adalah waktu yang berjalan begitu cepat. Aku semakin bangkotan, tapi tak ada peningkatan apapun selain berat badan.

Timeflies.

Dia bergerak begitu cepat hingga tidak sadar aku hampir melewatkan waktu pendaftaran untuk kesekian kalinya dan melewatka waktu untuk belajar banyak.

Dan ini menyebalkan.

Karena aku tidak pergi ke mana-mana.

Sang waktu meninggalkanku.
•••

Time flies, but this stupid person not.

•••
Do you wanna build a snow man?
-Kei 

Iklan