The Earl and The Fairy (Indonesian Translation Project)

earl 1

Judul Buku   : Hakushaku to Yousei (伯爵と妖精)

Judul Alternatif   : The Earl and The Fairy

Author   : Mizue Tani (story), Asako Takaboshi (art)

Genre   : Adventure, Fantasy, Shoujou, Supernatural

Jumlah Seri   : 32 (Final)

Penerbit    : Cobalt Bunko

Other Version   : Anime, Manga, Short Story

Summary   : Cerita ini berlatar abad ke-19 di Inggris, menceritakan seorang dokter peri bernama Lydia.Hidupnya berubah 180° ketika dia bertemu seorang blue knight count legendaris bernama Edgar dan kawanannya.Edgar menyewa Lydia sebagai pembimbing selama pencariannya untuk mendapatkan pedang berharga yang diwariskan dari keluarganya. (mangareader, translate: Kei aka shafira)

Continue reading “The Earl and The Fairy (Indonesian Translation Project)”

Iklan

Sampai kapan?

Aku berjalan menuju dapur. Gelap. Kulirik jam tangan yang melingkar, 00:30. Pantas saja. Manusia mana yang hidup jam segini di saat besok hari Senin.

Aku mengambil gelas dan menuangkan air hangat dari teko. 

“Gak buat susu sekalian?”

Klotrang!

Panas! Ini orang kenapa sih? Untung gelas melanin. “Kalau gelasnya retak, aku gak mau ganti lho,” ujarku kesal.

Namun aku gak bisa kesal lagi karena si pelaku adalah lelaki tinggi dengan rambut gondrong, bukan lelaki tinggi rata-rata berambut pendek.

 “Maaf, Kak Erai. Gelasnya pasti kuganti kok, hehe,” Aku mengambil gelas lalu memeriksanya dengan seksama. “Gak retak kok, gak retak!”

Kak Erai memerhatikanku dengan tatapan aneh. “Cuci sana gelasnya. Lap airnya pakai lap pel aja.”

“I-iya.”

Kak Erai memerhatikanku sambil menghangatkan susu dari kulkas. Kulihat ia menuang susu ke dalam dua gelas besar dan membawanya ke meja makan.

Setelah memastikan lantainya kering, aku segera bergabung dengan Kak Erai. Gelasnya … hangat. “Terima kasih, aku jadi merepotkan.”

“Kamu udah terlanjur merepotkan, jadi tidak usah sungkan,” Kak Erai meminumnya sedikit, aku pun begitu. Masih panas.

Sadar terlalu memperhatikannya, aku menunduk. Mataku tertuju pada permukaan susu yang tetap terlihat putih walau suasana remang. “Tapi, tetap saja kan–”

“Sampai kapan di sini?”

Jleb.

Pikiranku menguap. Mood baikku setelah mengobrol seharian dengan An menguap. Seolah dilempar tiba-tiba dari ketapel, menabrak pohon, lalu jatuh ke tanah.

“Aku sudah mengecek harga kontrakan di sekitar sini, jadi tinggal menghitung tabungan dan sekiranya aku bisa part-time di minimarket, aku akan segera pergi—”

Tek.

“Bukan itu.” Kak Erai menggeser kursinya untuk mendekat. “Banyak hal antara aku dan An, tapi aku tetap khawatir kalau dia tiba-tiba menghilang. Bagaimana pun dia adikku. Aku rasa orang rumahmu pun begitu.

Mereka pasti khawatir kalau kau menghilang tanpa kabar untuk waktu yang lama.”

Aku merasakan Kak Erai menepuk kepalaku lembut. Seketika, air mataku mengalir. Mau ada atau tidak ada, aku ini tetap menyusahkan, ya?

“Berjuanglah.”

Aku pun kembali sendiri, bersama segelas susu hangat yang akan dingin seiring waktu berjalan.

•••

“Kakak jahat, ya.” Lelaki dengan tinggi standar dan rambut pendek, An, membenarkan kacamatanya dibalik tembok. Ia menatap kakaknya seperti ia menatap orang yang meninggalkan anak kucing kedinginan.

“Kalau kelamaan di sini, dia sendiri yang kena masalah.” Erai memberikan segelas susu itu pada adiknya. “Cepat tidur. Besok, berlakulah seperti biasa.”

[not really][END]

玉子


Aku gak tau mau nulis apa. Terlalu banyak kejadian dalam waktu yang sangat singkat dan masing-masing … kontradiktif. Akhirnya aku buka koleksi lama dan baca-baca lagi Barakamon. Judulnya itu kanji Tamako btw. Gak tau betul atau enggak sih, tapi semoga gak salah ya haha.

Kekalahan itu emang … sakit. Ya. Kecemburuan itu sakitnya lebih menusuk, menurutku. Orang bilang, katakanlah dengan jujur. Namun, jujur masalah kecemburuan dalam artian “iri” dan “dengki” rasanya memang hina ya.

Rasanya juga sakit. Sudah hina, sakit, payah pula. Apa bagusnya?

Ingin aku jadi manusia yang gak peduli dengan orang lain jadi bisa memaki sesuka hati, bisa bertindak sesuka hati, mungkin dengan begini lebih plong ya?


Atau mungkin … kehidupan kucing lebih membahagiakan ya?

Ngawur. Terlalu banyak yang kupikirkan, akhirnya malah ngawur begini. Mungkin lebih baik kalau aku sakit yang terlihat untuk membuat kesan tersiksa yang nyata.

Monster

Kukira hidupku akan baik-baik saja. Hidup dalam damai, tidak ada sesuatu yang terlalu mengagetkan.

Kukira monster itu sudah pergi dan membiarkanku hidup dengan tenang. Toh selama ini tidak pernah ada masalah, kan?

Namun, aku salah. Salah besar.

Monster itu tetap ada. Bahkan mungkin lebih kuat dari sebelumnya. Dia seperti kumpulan dari sampah-sampah yang menggunung dan menjadi sesuatu yang sangat sangat mengerikan.

Aku tidak tau mengapa saat badai itu datang, hal pertama yang kubayangkan adalah pisau dapur yang biasa kupakai untuk ngupas bawang?

Pikiranku berkabut. Campur aduk. Semua menjadi semu, semua berada di area abu-abu.

Aku marah pada semua yang ada, aku benar-benar ingin menghancurkan semuanya.

Terlebih, aku marah pada diriku sendiri. Marah, kecewa, sedih, semua emosi negatif menjadi satu. Aku lebih-lebih ingin menghancurkan diriku sendiri. Toh, aku memang tidak pernah pantas untuk hidup, kan?
Ya, aku belum berubah. Malah aku semakin parah. Aku pun kaget, aku pun kecewa. Marah? Jangan ditanya. Betapa aku merasa ingin mati saja karena masih punya sisi buruk yang mengerikan dan menjijikan seperti ini.

Bahkan untuk saat ini, aku takut saat ada orang berbuat baik. Aku takut jika ia mengenalku lebih dekat lagi.

Monster yang kupunya akan membuat kalian tidak pernah ingin mengenalku lagi.

Dan kurasa

Monster itu tidak akan pernah pergi.

Ia hanya diam, menjadi lebih menyeramkan dalam diam.

Bonus : ucing untuk menghangatkan harimu. dia spider 4.0. Black spider.

Tanah yang Belum Ditakdirkan

Ada sebuah tanah

yang selalu ada di puncak mimpi

Ada sebuah tanah

yang rasanya tidak akan pernah ditakdirkan

Ada sebuah tanah

yang walau seribu tahun pun rasanya mustahil
Ada sebuah tanah

Yang selalu kudamba

Sekaligus membuatku sakit

Akan penolakan.
Tanah yang belum ditakdirkan

Dan mungkin saja
Tak akan pernah ditakdirkan.

[Tanah Yang Belum Ditakdirkan, Kei, 2017.]
•••


Curhat sih. Jadi ya ada penolakan yang belum kuminta saja udah ditolak, lol. Oke, aku nurut dan berusaha jadi anak baik. Tapi … tolonglah, aku pergi sebagai aku, bukan pergi sebagai pengganti atau perwakilan siapapun.

Aku mulai bertanya-tanya

Sebenarnya aku pergi untuk apa? Untuk mewakilkan rasa penasaran dan keinginan orang lain saja, kah?

Aku berhak memilih tanahku sendiri, kan?

Feel


Aku benci menjadi perasa. Memang, dengan begitu kita bisa lebih memahami orang atau apapun. Tapi masalah muncul jika kau hanya peka pada “perasaan benci”, lalu hal itu membuatmu punya perasaan benci pada dirimu sendiri. Seluruh semesta pun membencimu.

Menjadi perasa, aku malah memikirkan perasaan banyak orang (bahkan makhluk) yang sebenarnya tidak penting samasekali. Oh,aku malu mengungkapnya. Kalian pasti menertawaiku sekarang.

Menjadi perasa, aku semakin merasakan betapa aku membenci diriku sendiri.
Aku benar-benar benci jadi perasa.
•••
K. 2017.
Bonus : foto ucing ngintip

Time Flies

The sky is awake, so I am awake, so we have to play! -Anna, Frozen.


Aku menatap kalendar dari hari itu. Hari saat aku memutuskan ingin berbuat baik agar kehidupanku bisa membaik di sana, dengan parameter berkurangnya rutukan maupun tulisan depresi di buku catatanku.

Kalender sederhana, memang. Saking sederhananya, aku sampai lupa untuk memajangnya di awal tahun. Saking sederhananya, aku baru sadar hal itu di akhir tahun. Entah ia yang terlalu sederhana atau aku yang bodoh, kedua jawaban sangat terbuka kebenarannya.

Di dalamnya ada banyak gambar anak-anak yang sebenarnya lucu. Khas sekali. Gambarnya tidak pernah berubah dari zaman aku masih tidak tau A Ba Ta Tsa. Isinya pun begitu, kumpulan do’a-do’a harian.

Pertemuanku dengan teteh yang berjualan sepertinya memang sekali itu saja. Entah takdir apa yang membawaku pulang lewat pekarangan belakang masjid saat itu, padahal lewat trotoar biasa lebih dekat.
“Teh, boleh ngobrol sebentar?”

Karena merasa kasihan (ia sudah ditolak oleh orang-orang sibuk di depanku), aku menyempatkan untuk minggir. Toh habis ini destinasiku hanya kosan yang tak lebih dari 5km. Tak lupa mencari sedikit tanah tak berumput agar tidak mengganggu lalu-lalang manusia maupun kehidupan rumput.

“Teteh kuliah di mana?”

Aku ingin menatapnya aneh, tapi sadar itu tidak sopan. Jadi, aku menatapnya biasa saja dengan pikiran “mbak, sehat?” yang untungnya tidak terlontar sama sekali. Masjid ini masih termasuk komplek sebuah kampus yang tepat berada di seberangnya, jadi kurasa agak aneh kalau ada orang bertanya begitu.

Ya walaupun hal itu tidak ditanyakan, sih. Tabu. Apalagi buatku.

Aku mengalihkan pembicaraan dengan caraku yang memang alay tapi setidaknya berguna. “Teteh sendiri gimana? Gimana ceritanya bisa jadi relawan.”

Tepat! Perempuan di hadapanku bercerita panjang lebar mengenai anak-anak yatim dan kurang mampu yang sering ia temui di setiap sudut kota kembang. Miris, memang. Tapi sisi kelam khas metropolis negara berkembang ini sulit diatasi.

Lalu, ia menyodorkan sebuah kalender padaku. “Harga kalendernya sepuluh ribu, donasinya terserah teteh aja.”

Aku merogoh saku sambil meraba berapa yang pas dan ada di kantongku saat itu.

“Terima kasih ya Teh, semoga kulianya lancar.”

Kuaminkan saat itu.

Hal yang membuatku tersenyum pahit saat ini.

Kalender sudah berganti tiga kali sejak aku membali kalender itu, dengan dia yang tidak terpakai. Yah, paling tidak kontennya bisa dijadikan mading oleh adikku.

Apa yang kusadari adalah waktu yang berjalan begitu cepat. Aku semakin bangkotan, tapi tak ada peningkatan apapun selain berat badan.

Timeflies.

Dia bergerak begitu cepat hingga tidak sadar aku hampir melewatkan waktu pendaftaran untuk kesekian kalinya dan melewatka waktu untuk belajar banyak.

Dan ini menyebalkan.

Karena aku tidak pergi ke mana-mana.

Sang waktu meninggalkanku.
•••

Time flies, but this stupid person not.

•••
Do you wanna build a snow man?
-Kei