The Earl and The Fairy (Indonesian Translation Project)

earl 1

Judul Buku   : Hakushaku to Yousei (伯爵と妖精)

Judul Alternatif   : The Earl and The Fairy

Author   : Mizue Tani (story), Asako Takaboshi (art)

Genre   : Adventure, Fantasy, Shoujou, Supernatural

Jumlah Seri   : 32 (Final)

Penerbit    : Cobalt Bunko

Other Version   : Anime, Manga, Short Story

Summary   : Cerita ini berlatar abad ke-19 di Inggris, menceritakan seorang dokter peri bernama Lydia.Hidupnya berubah 180° ketika dia bertemu seorang blue knight count legendaris bernama Edgar dan kawanannya.Edgar menyewa Lydia sebagai pembimbing selama pencariannya untuk mendapatkan pedang berharga yang diwariskan dari keluarganya. (mangareader, translate: Kei aka shafira)

Lanjutkan membaca The Earl and The Fairy (Indonesian Translation Project)

Iklan

Ray

Taman itu tua. Tidak terurus. Sengketa lahan membuatnya menjadi usang dan tidak berguna. Keserakahan manusia kembali membawa petaka pada lingkungannya.

Atau mungkin tidak.

Sedikit keuntungan dari taman bermain yang sepi adalah orang-orang yang menyukai hening dapat mengisi daya di taman ini. Tidak terlalu buruk. Ayunan di sana masih layak di naiki walau suara engselnya menjerit.

Kami kembali bertemu. Tidak sengaja. Tidak pernah janjian. Hanya seakan tau, kami akan bertemu di sini. Kami berayun bersisian, di ayunan yang berbeda. Bunyi gesekan engsel menemani kami sore itu.

“Apa isi kepalamu hari ini?”

Dia tertawa kecil. “Kamu kan belah tengkorak manusia buat makan, pasti tau kalau isinya ya itu-itu aja.”

“Jawabanmu seakan aku ini Hannibal.”

“Oh, bukan ya?” godanya dengan mengerling ke arahku. “Iya sih. Kamu gak ganteng-ganteng creepy kayak dia.”

Kusentil pelipisnya. Gemas. “Ganteng-ganteng cerigala.”

Dia terbahak. Aku menertawakan dia yang tertawa kencang hanya karena jokes remahan pasir kucing yang gak ada esensinya.

“Seandainya aku benar-benar berakhir di mejamu, perlakukan aku sebaik-baik makhluk, ya?”

Bekas tawa menghilang dari rautku.

“Jangan aneh-aneh.”

“Aneh itu nama tengahku,” ujarnya santai. Ayunan kami sama-sama berhenti. Ia menolehkan wajahnya padaku, bertepatan dengan aku yang menoleh ke arahnya. Ia tersenyum menatapku. Senyum yang membuatku ingin menghentikan waktu seketika karena mendengar kalimat berikutnya membuatku merana. “Jika memang aku harus berada di atas meja, aku memilih kamu untuk jadi chef-nya.”

###

Conflict of interest adalah hal yang harus dihindari. Terlalu berat untuk ditanggung manusia apalagi yang beriman pas-pasan sepertiku. Namun, takdir sepertinya ingin bermain-main denganku.

Oleh takdir, aku diharuskan untuk mengabulkan permintaannya : menjadi chef-nya. Dia benar-benar berada di atas meja. Terbaring lemah. Kuharap dia masih berjuang untuk hidup agar semuanya menjadi lebih mudah. Untuknya, juga untukku.

Percakapan terakhir kami di ayunan sore itu menjadi percakapan terakhir kami sampai hari ini, sampai mungkin dia akan terbangun dan kembali memulai percakapan nonsense-nya.

 

[e]

A/N. Kuakui, ini gaje. Akhirnya gak tereksekusi dengan baik karena aku emang gak mikir ke situ awalnya. Ini ide dadakan. Terinspirasi dari sakit kepala yang suka ujug2 muncul + curhatan ibu-ibu di kolom komentar youtube tentang anaknya yang meninggal dadakan karena aneurisma otak yang pecah. Turut berduka, Ibu…

Kind of Emergency [1/1]

Elyas konsentrasi memandang arah tujuannya bersamaan dengan pesawat yang terus kehilangan laju dan ketinggian. Komponen sayap sudah disiapkan untuk mendarat, begitu pula roda pesawat yang sudah diturunkan.

One thousand.

“Runway insight.”

“Continue.”

Ia membiarkan rekannya melanjutkan approach untuk mendarat. Tower kedatangan sudah memberikan izin untuk mendarat. Pesawat sudah semakin dekat dengan landasan pacu.

Minimum.

“Check—CAPT, ADA KUCING!”

Elyas melotot. Inderanya fokus pada makhluk berbulu yang dengan santainya berjalan melintasi landasan pacu, lalu tiba-tiba menggeletakan diri sambil jilat-jilat. Khas kucing.

“Abort landing!” Jemarinya segera mengaktifkan frekuensi radio. “CattoFly258 request go around. There is a cat on the runway!”

“CattoFly258 climb FL30 holding on waypoint. We will try to evacuate that thing.”

“Climb FL30 holding on waypoint. Make sure you catch her, I’ll give her some kibbles, CattoFly258.”

Elyas menghela napas panjang. Pesawat naik kembali ke udara untuk berputar dan kembali melakukan approach. Ia melirik jam tangannya untuk menghitung waktu keterlambatan.

“Penumpang yang terhormat, pesawat akan kembali terbang ke ketinggian 3000 kaki dan mengulang prosedur pendaratan. Seekor kucing memasuki wilayah landasan sehingga pendaratan tidak dapat dilakukan. Diperkirakan pesawat akan mendarat pada pukul 13 waktu setempat. Saya Kapten Elyas Koesnadi dan kru memohon maaf atas ketidaknyamanan Anda. Terima kasih atas pengertian Anda.”

Elyas mengusap wajahnya. Ia melihat pesawat telah sampai di ketinggian yang pas, bersiap untuk melakukan prosedur.

“Saya gak pernah nyangka kucing bisa bikin delay, Capt.”

“Apalagi saya,” jawab Elyas. Ia tau kucing memang absurd, tapi tidak separah ini. Kucing memang tidak jelas.

•••

“Udah semua, Capt?”

Elyas mengangguk. Ia membereskan kertas laporan dan kertas-kertas lainnya, lalu membawanya beserta koper miliknya. “Ayo. Saya udah gak sabar pengen penyet kucing tadi.”

“Digeprek lebih enak, Capt. Ada krispinya!” canda sang co-pilot diselingi tawa geli. Kejadian tadi menegangkan baginya yang kebagian terbang, tetapi geli juga saat diingat-ingat. Absurd. Kucing memang absurd.

“Tegang ya, Capt, ngadepin kucing? Tadi penumpang udah pada doa tau Capt, dikiranya ada apa. Pada panik. Saya yakin mereka auto-inget Tuhan,” oceh seorang pramugari yang sedang membereskan pesawat setelah landing. “Pas kapten ngasih PA soal kucing itu ada yang sebel, ada yang ketawa, ada yang bilang ‘tabrak aja ngapa sih!’ terus di demo pecinta kucing.”

Elyas tersenyum kecil. “Kucing memang gak jelas. Makasih ya udah bantu handle.” Ia melambaikan tangannya. “Saya duluan!”

•••

Perang tatapan mata terjadi antara Elyas dan Kucing. Ah, tidak, perang itu hanya satu pihak. Elyas menatap si kucing tajam, sedangkan si kucing asik menjilat bulunya sendiri. Tidak terintimidasi sedikit pun.

“Kamu!” Elyas mengangkat si kucing ke pangkuan. Dengan gemas, ia apit kepalanya dengan telapak tangan, lalu….. geleng! “Kamu tuh ya ngapain sih pake nyebrang segala? Udah tau itu restricted area. Kamu menyusup darimana hah??”

Kucing menatap Elyas dengan wajah jutek.

“Saya tau kamu kucing, tapi jangan di runway juga dong! Ngagoler tuh jangan di jalan, kuciiing! Gara-gara kamu, saya yang ribet, kan!” Omelan Elyas untuk Sang Kucing, semuanya, masuk telinga kanan-keluar telinga kiri.

“Kucingnya mau dibawa pulang, Capt?”

Elyas mendongak. Ia melihat sosok gadis dengan seragam pilot dan koper di tangannya. Sierra. Ia pun melirik sekeliling. Elyas lupa kalau ia masih di area bandara.

“Kapten Elyas lucu juga ya kalau marahin kucing.” Sierra tersenyum geli. Ia ikut jongkok bersama Elyas. “Ini toh kucing yang jadi hot topic!”

Ia ikut mengelus kepala kucing dengan lembut. Kucing terlihat keenakan dimanja manusia. “Kamu ya…. bandel!”

Pletak!

Sierra menyentil sedikit dahi Kucing, membuatnya terpejam kaget. Elyas pun ikut kaget. “Jangan kasih ampun dia, Capt. Kasih makan yang banyak sampe bulet biar bisa dipencet-pencet!”

Elyas masih melongo melihat kelakuan rekan juniornya yang satu itu. Sierra terkenal kalem dan lurus, tapi sangat berbeda di depan kucing. “Kamu suka kucing?”

Sierra mengangguk. “Aku pelihara di rumah, suka nitip ke temen kalau terbang. Kalau kapten mau bawa pulang si Kurap, nanti aku kasih tips rawat kucing.”

Mau tidak mau, Elyas tertawa geli. “Kurap?”

Sierra mengangguk. “Kurap. Kucing Airport.”

“Meow!”

“Argh!”

Elyas meringis. Kurap menggigit tangannya, ngambek karena dicuekin setelah dimarahin. “Tunggu pembalasan saya!” ancamnya pada Kurap yang tidak peduli sama sekali.

[tbc?]

a/n. Sierra muncul! Hoho. Bagi kalian yang punya temen pendiem, mungkin dia punya kepribadian lain kalau udah berhadapan sama kucing.

Btw, maaf kalau rada ngaco di beberapa bagian. Kotak komentar blog ini selalu terbuka dan dibaca, kok.

Penjara Ekspektasi

Ketika aku muak dengan ekspektasi orang, tanpa sadar aku membenarkan perkataan mereka. Aku gak pernah benar-benar berpihak pada diriku.

Dari lingkar dalam pun sudah terpenjara. Selonggar apapun pekerjaan di luar, jika penjaranya ketat di dalam, untuk apa?

Ekspektasi tuh lama-lama memang memenjarakan, terutama jika diiyakan oleh diri sendiri, tersugesti, sedangkan kita sendiri tau itu hal yang kemungkinan gagalnya besar karena kita punya tujuan dan keinginan di luar ekspekasi tersebut. Awalnya mungkin bagus, semacam penyemangat.

Ekspektasi bisa dalam hal apapun. Moral, agama, pendidikan, sikap, kepribadian, finansial, rupa.

 

Kalau aku merasakan, ekspektasi adalah penjara yang menyedihkan.

[CatStuff] CatFood : Meo-O Kitten Ocean Fish

Ini adalah makanan Krupuk sejak ia terlahir ke bumi //halah//. Krupuk pakai pakan ini lumayan lama (sampai dia usia 8 bulanan, I guess?). Aku masih newbie saat itu dan agak takut buat nyoba makanan (sekarang juga masih takut sih).

Me-o adalah merk pakan kucing dengan harga standar dan tersedia di beberapa supermarket. So, gampang nyarinya. Hampir setiap petshop pun menyediakan Me-O. Varian Me-O pun banyak, dry food, wet food, dan cat treats.

Untuk varian dryfood kitten memang hanya tersedia satu rasa : Ocean Fish.

Kemasan yang tersedia biasanya 1.1 kg (kitten dan persian) dan 1.2 kg untuk varian adult. Cuma aku pernah liat kemasan 400 gr di supermarket. Harga kemasan 1.1 kg sekitar 70rb di petshop (supermarket lebih murah), 1.2 kg sekitar 60-70rb (lebih murah memang), dan 25rb untuk kemasan 400gr.

A nice deal untuk pemula.

•••

Aku mulai review untuk varian Me-O Kitten Ocean Fish ya.

Bentuk kibbles-nya kayak tanda (x). Kecil karena memang ini makanan kitten. Teksturnya kering dan berminyak. Baunya ya… bau makanan kucing. Rada pusing sih aku pas pertama kali. Cuma ya aku mah asal Krupuk makan sudah bahagia.

Aku lihat, Krupuk baik-baik aja makan ini. Dia lincah, bulunya bagus, ga pernah rewel. I see everything as normal sampai akhirnya dia sakit. Krupuk sakit setiap Me-O nya ganti ke kemasan baru. Padahal aku selalu beli freshpack, lho. Awalnya aku kira ini kebetulan, tapi kalau kejadian terus masa kebetulan?

Sampai aku notis kalau ternyata semua yang terjadi sama Krupuk tidak baik-baik saja. Pup-nya terkesan lembek, bahkan pernah kayak yang ga berbentuk gitu. Setelah lama di pasir pun pupnya sama sekali ga mengeras. Baunya? Bayangkan saja.

Setiap ganti kemasan, Pupu selalu sakit karena gamau makan. Awalnya aku ngira karena dia emang lagi males, ternyata memang makanannya yang bermasalah. Dia kayak yang panas dalam gitu kalah manusia mah. Jadi gak enak makan apa-apa juga.

Karena kejadiannya berulang, mamaku memberanikan diri ganti makanan dia ke makanan organik. Alhamdulillah, dia baik-baik saja sampai saat ini.

•••

Kesimpulan :

Mungkin Me-O makanan yang bagus (aku ga terlalu notis komposisinya saat itu, maklum newbie). Cuma ya… itu, si Pupu ga cocok ternyata. Kukira karena selama ini dia demen (sampe 8 bulan lho!) ya cocok aja. Ternyata tidak, Esmeralda.

Aku terlalu polos saat itu sampai ga tau pup kucing yang normal tuh kayak apa.

 

Bagi yang mau coba makanan ini, silakan. Mengingat si Krupuk bisa bertahan 8 bulan pakai produk ini, it’s still a worth try anyway. Coba-coba juga pakai merk lain biar tau mana saja yang kucing suka dan coccok daaan tentu saja yang paling ekonomis.

 

Salam bulu,

Double K.

[CatStuff] Markotops Cat Litter

Jarang-jarang sih ya aku review perucingan. Si Krupuk udah lumayan lama pake ini, habis 2 bungkus isi 10 liter, jadi kurasa sah buat bikin review-nya.

Kenapa pasir?

Karena aku merasakan galaunya milih pasir gumpal pas awal-awal pelihara Krupuk. Banyak banget merk dan variannya. Untuk harga sendiri variatif setiap petshop, ya, cuma kisarannya ya sama antara satu pasir dan pasir lainnya (apalagi kalau cuma pelihara sebiji kucing).

Pasir gumpal adalah kebutuhan esensial untuk kucing peliharaan. Sebenarnya lebih ke kesejahteraan pemiliknya sih. Kotoran kucing ya mau secantik apapun tetep aja bau :”) makanya kita perlu sarana toilet yang bisa mengurangi ke-geuleuh-an itu.

Pasir biasanya macam-macam. Di Indonesia banyaknya yang pakai pasir zeolite atau bentonite. Zeolite ini kudengar bisa cuci kering pakai. Aku sendiri pakainya jenis bentonite. Markotops ini juga pasir jenis bentonite.

Pasir bentonite menggumpal ketika kena air, termasuk air kencing si ucing. Biasanya dilengkapi anti-bakteri dan anti-bau juga, beberapa ada yang pakai parfum berbagai aroma untuk penghilang bau.

Nah, Markotops ini gimana?

 

•••

Pasir Markotops ini produk lokal (setauku) dan harganya cukup terjangkau. Aku beli yang 10 liter sekitar 70rb (2018, variatif setiap petshop) dan awet beberapa bulan untuk sebiji kucing.

Butiran Markotops ini besar lumayan besar. Dia didominasi warna putih dan beberapa butiran warna-warni. Debunya sedikit, tentu ini menjadi nilai plus buat Markotops.

Aromanya sendiri cuma “saheab”, sekilas gitu. Aku pakai yang Lavender dan baunya kayak bau bedak Caladine gitu buatku. Tipis banget dan ga menyengat. Bau “pasir” yang kayak semen gitu malah lebih mendominasi.

Kinerjanya buatku TOP banget!

Walau aromanya “tipis”, penghilang baunya bekerja dengan baik. Pup si bulu ga terlalu ketara kalau dia memang terkubur di dalam pasir ini. Untuk bau pipisnya pun ga kerasa sama sekali. Aku sebagai pelayan yang bersihin pasir si sultan merasa ga terlalu mual waktu bersihin.

(Fyi, penciumanku sensitif.)

Untuk teknologi gumpalannya pun bagus banget. Gumpalannya kuat, keras, dan gak lengket. Gampang banget bersihinnya! Tinggal di goyang-goyang sedikit wadah pasirnya, gumpalannya langsung terlihat, gak lengket ke wadah, dan dengan mudah diambil pake sekop.

 

Untuk saat ini pun aku merasa kalau pasir ini memang terbaeq karena bagus dan produk lokal ekonomis! Banyak pula petshop yang jual ini jadi mudah didapatkan.

Sejauh ini pun, Markotops adalah pasir terbagus yang pernah Krupuk coba.

 

Sooo, aku merekomendasikan ini kepada kalian para butler yang lagi pengen nyoba pasir. It’s a worth try!

 

•••

Aku dan Krupuk udah mencoba 3 produk pasir lainnya saat review ini dibuat. Review 3 pasir lainnya akan kutulis saat sempat.

Jika kalian ada rekomendasi produk pasir kucing lain (atau apapun produk sanitasi kucing), bisa komentar di bawah, ya!

 

Regards,

Double K (Kei & Krupuk).

you-for-yeah

setelah berhasil melakukan sesuatu yang kuanggap prestasi (termasuk membuka diri ke orang), aku merasakan euforia. kayak.. seneng aja gitu.

senengnya sampe bisa bikin lupa semua masalah yang ada, berasa kayak ga ada masalah lagi.

aku lemah juga sama efek candu euforia, ya.

 

sampai kadang-kadang aku bertanya, yang keluar dari lisanku ini dapat dipertanggung jawabkan atau tidak.

am I telling the truth… or not?

greret

IMG_8997.JPG[hasil pikiran malam, segelap langit malam tanpa bintang. ditemani seekor kucing yang juga abu-abu.]

 

 

entah ini cuma hasil overthinking atau memang benar, aku selalu merasa orang disekitarku pasti greget dan… mual.

hal ini pun yang membuatku agak membatasi diri untuk cerita pada orang lain karena.. hey, siapa sih yang tahan mendengar cerita yang sama selama bertahun-tahun dari orang yang ga pernah mengusahakan hidupnya sendiri?

setiap orang pasti punya batasannya karena aku pun begitu : punya batasan.

selain itu, ya… setiap aku open up, aku selalu merasa auto-awkward setelahnya. aku paham kok, pasti sulit mencerna yang gelap gelap karena aku pun begitu. dibanding nyusahin orang, aku pun berusaha untuk seminim mungkin membuka diri—akhirnya jadi kebiasaan, saat harus dibuka, aku gamau bukain.

itu dulu.

sampai akhirnya aku punya keinginan (sekarang malah lenyap sih) dan aku sadar aku harus mulai terbuka, aku membuka diri perlahan. the result is not very good. kacau. aku kayak kehilangan orientasi. dan kecenderunganku untuk nyusahin orang yang bisa dipercaya semakin membuatku merasa gak enak.

aku sendiri mual sama ocehan diri sendiri. kayak… “kamu kenapa sih sa? perasaan hidupmu bagus bagus aja. there are lots of people who have miserable life tapi tidak semenyedihkan kamu. kamu gak menyedihkan, kamu membuat dirimu sendiri menyedihkan. biar apa sih?”

jika ada yang berpikiran begitu, tenang, udah terwakilkan kok. kalau aku aja berpikir kayak gini, kenapa orang lain engga?

mungkin banyak yang bertanya, kenapa kamu ngoceh doang tapi ga melakukan sesuatu sih? masa lalu itu dilepasin aja, toh gak ada yang ngungkit, gak ada yang nyalahin.

kalau aku cukup berani bersuara, aku bakal jawab, “aku sendiri ga terpikir untuk hidup, tapi mencoba untuk tetap hidup. lalu apa?”

 

•••

karena sejujurnya aku malu. aku merasa rendah.

manusia apa yang gak punya keinginan untuk hidup padahal hidupnya baik-baik saja?

aku merasa jadi manusia yang kufur, serendah-rendahnya manusia di mataku.

aku pengen hidup. aku pengen punya keinginan untuk hidup karena aku mau atau gak mau, kehidupanku akan terus berjalan. garis waktu tidak pernah berhenti. hanya aku yang tidak ingin maju.

tapi aku, bahkan, sungkan untuk memiliki keinginan itu. takut untuk maju. takut untuk bergerak.

am I a coward, then?